BALIKPAPAN — Koperasi Merah Putih Gunung Bahagia mencoba keluar dari bayang-bayang citra koperasi konvensional yang hanya berfokus pada simpan pinjam. Koperasi di Kelurahan Gunung Bahagia, Balikpapan Selatan, ini memilih masuk ke lini distribusi kebutuhan pokok dengan skema yang lebih dekat ke warga.
Ketua Koperasi Merah Putih Gunung Bahagia, Drs. Muhammad Ramli, menyebut keanggotaan koperasi telah mencapai sekitar 100 orang sejak kepengurusan resmi terbentuk pada Juni 2025.
“Alhamdulillah sejak terbentuk kepengurusan pada Juni 2025, kurang lebih sekarang sudah satu tahun kami berjalan. Anggota kami sudah sekitar 100 orang,” ujar Ramli, Senin (10/8/2026).
Bukan Menunggu di Gerai, Sembako Diantar ke RT
Alih-alih sekadar membuka toko dan menunggu pembeli, pengurus koperasi justru membangun mekanisme distribusi berbasis data. Koperasi menjalin kerja sama dengan Perumda untuk penyediaan minyak goreng dan gula, lalu mendistribusikannya melalui koordinasi dengan pengurus rukun tetangga (RT).
RT berperan mendata kebutuhan warga di wilayah masing-masing. Setelah data terkumpul, koperasi mengirimkan barang langsung ke lingkungan RT. Pola ini membuat koperasi tidak bekerja berdasarkan asumsi, melainkan mengikuti permintaan riil dari masyarakat.
Fasilitas Hampir Rampung, Armada Distribusi Sudah Tiba
Dari sisi kesiapan operasional, gerai koperasi dilaporkan sudah mencapai 95 persen. Rak-rak pajang barang telah tersedia, sementara pasokan sembako masih ditopang Perumda.
Koperasi juga baru saja menerima satu unit kendaraan pick-up dari Agrinas sekitar sepekan sebelum wawancara dilakukan. Armada ini diharapkan mempercepat mobilitas pengiriman barang ke tiap-tiap RT, sekaligus memangkas biaya logistik yang selama ini mungkin ditanggung pengurus.
Modal Awal dari Pemerintah, Target ke Depan Gas Elpiji
Pada tahap awal, pemerintah kelurahan memberikan fasilitas berupa gedung untuk dijadikan kantor sementara. Dukungan itu menjadi penopang utama bagi pengurus yang baru merintis kegiatan.
Ramli berharap peringatan Hari Koperasi Nasional menjadi momentum untuk memperkuat koperasi akar rumput. Ia berharap ada dukungan pembiayaan maupun bantuan lain agar koperasi bisa memperluas jenis kebutuhan yang disediakan, salah satunya gas elpiji.
“Koperasi tumbuh bukan karena besar namanya, tetapi karena besar manfaatnya. Ketika dikelola dengan kejujuran, kepedulian, dan cinta kepada sesama, setiap barang yang dibagikan bukan sekadar kebutuhan, melainkan bentuk kecil dari harapan agar kehidupan warga menjadi lebih baik,” tutupnya.