KALIMANTAN TIMUR — Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Adrian Risky Lubis, mengungkapkan bahwa insiden berawal ketika Apriaman memesan jasa kencan melalui aplikasi Michat dan terhubung dengan seorang perempuan berinisial FR. FR kemudian datang ke apartemen bersama rekannya, JS, sekitar pukul 04.20 WIB.
Dari Kencan Berbayar hingga Pemerasan Rp4,5 Juta
Menurut Adrian, saat di kamar, korban merasa wajah FR berbeda dengan foto di aplikasi sehingga memilih berhubungan badan dengan JS. FR lantas meminta uang pembatalan sebesar Rp400.000 yang langsung ditransfer korban.
JS kemudian mematok biaya hubungan badan Rp850.000. Setelah korban mentransfer sejumlah itu, JS melakukan servis tambahan yang diminta korban. Namun, usai layanan selesai, kedua perempuan itu diduga memeras korban dengan meminta uang tambahan Rp4.500.000.
"Yaudah Loncat Kalau Berani"
Korban menolak membayar. Kedua tersangka terus memaksa dan meminta korban menunjukkan saldo ponselnya. Dalam kondisi terdesak, Apriaman berjalan ke balkon dan mengancam akan melompat. "Korban juga mengatakan 'kalau terus minta uang tambahan nanti aku loncat ini' sambil korban membuka pintu di balkon," ujar Adrian dalam konferensi pers, Rabu (15/7).
Alih-alih meredakan situasi, FR justru menantang korban. "Tersangka FR mengatakan 'yaudah loncat kalau berani'," papar Adrian. Tak berselang lama, Apriaman benar-benar terjatuh dan ditemukan tewas di bawah apartemen. Kedua tersangka disebut menyaksikan kejadian itu sebelum meninggalkan lokasi.
Korban Baru Diangkat Jadi ASN
Polisi mengonfirmasi bahwa Apriaman baru beberapa hari menginap di Medan. "Jadi korban baru beberapa hari di Medan. Dia mau mengambil SK-nya karena baru diangkat menjadi ASN BPN," kata Adrian. Keberadaan korban di ibu kota provinsi Sumut itu murni untuk urusan administrasi kepegawaian, bukan untuk keperluan lain.
Kedua tersangka, FR dan JS, kini telah ditahan di Mapolrestabes Medan. Mereka dijerat dengan pasal pemerasan dan atau tindak pidana yang menyebabkan orang lain bunuh diri. Polisi masih mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam jaringan prostitusi online yang memicu tragedi ini.