SANGATTA — Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud menyisir ruas jalan dari Sangatta, Simpang Perdau, Bengalon, Kaliorang, hingga KEK Maloy pada kunjungan kerja hari kedua di wilayah utara provinsi. Dari peninjauan itu, tim menemukan sedikitnya 20 titik jalan longsor dan area rawan ambrol yang berpotensi memutus akses logistik menjelang musim penghujan.
Rudy menilai penanganan tidak bisa menunggu cuaca berubah. Instruksinya jelas: Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (PUPR-Pera) harus segera berkoordinasi dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN).
"Hari ini masih kemarau. Kalau masuk musim penghujan, saya yakin titik-titik longsor akan semakin banyak, semakin rawan, dan berbahaya. Tolong ini segera disampaikan ke BBPJN," kata Rudy di sela peninjauan ruas jalan Sangatta–Simpang Perdau.
Catatan paling keras Gubernur diarahkan ke jalur Simpang Kaliorang menuju kawasan ekonomi khusus. Risiko kecelakaan di ruas itu tinggi karena kendaraan bermuatan berat rutin melintas.
"Ini jalur menuju kawasan ekonomi khusus. Kalau jalannya begini sangat berisiko, apalagi angkutan yang melintas pasti bermuatan berat," ujarnya.
KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan sendiri menjadi salah satu pintu masuk investasi di wilayah utara Kaltim. Akses jalan yang rusak berimbas langsung ke arus barang dan biaya logistik pelaku usaha di kawasan tersebut.
Berdasarkan data teknis, perbaikan jalan nasional itu telah masuk skema APBN 2026 untuk paket Bontang–Sangatta–Simpang Perdau dengan total alokasi Rp60,22 miliar. Porsi terbesar dikucurkan untuk penanganan ruas Bontang–Sangatta sepanjang 5,7 kilometer.
Sisanya dialokasikan untuk pemeliharaan rutin serta penanganan satu titik longsor utama. Pemerintah pusat juga memproyeksikan anggaran APBN Rp188 miliar pada tahun anggaran 2027 untuk melanjutkan penanganan sisa titik longsor di ruas yang sama.
Rombongan Gubernur juga meninjau Jembatan Bailey di Jalur Bengalon. Jembatan itu dipasang sebagai pengganti sementara Jembatan Lembak yang turun dan tidak bisa dilintasi.
Jembatan tersebut menghubungkan Kaliorang, Kaubun, Sangkulirang, hingga Talisayan di Kabupaten Berau. Rencananya dibangun permanen melalui kontrak tahun jamak (multiyears contract) senilai total Rp27 miliar, diawali kucuran Rp4 miliar pada Desember 2026.
"Kami berharap alokasi APBN lancar sehingga jembatan ini bisa segera diperbaiki kembali karena perannya sangat vital untuk menghubungkan antarkecamatan hingga ke Kabupaten Berau," kata Rudy.
Dari 20 titik longsor yang ditemukan, penanganan tahun ini baru menyentuh satu titik utama. Sisa titik lainnya bergantung pada realisasi anggaran 2027, sementara musim penghujan diperkirakan tiba lebih dulu.