SAMARINDA — Informasi rencana aksi disampaikan advokat dan figur publik asal Samarinda, Irma Suryani, melalui akun Instagram pribadinya pada Selasa malam (20/10/2026). Irma membagikan situasi ketika sejumlah mahasiswa mulai mempersiapkan baliho berukuran besar berisi tuntutan yang ditujukan kepada Rudy Mas'ud.
Dalam unggahan tersebut, Irma menyebut aksi akan melibatkan mahasiswa dan masyarakat. Ia juga menginformasikan lokasi dan waktu berkumpul bagi warga yang ingin ikut serta.
"Besok Gubernur Kaltim akan didemo oleh masyarakat dan para mahasiswa, lihat di belakang saya, para mahasiswa sudah mulai berkumpul," ucap Irma sebagaimana dilansir dari akun Instagram miliknya.
Irma merinci titik kumpul aksi berada di masjid lingkungan Pemprov Kaltim pada pukul 13.00. Peserta diminta mengenakan pakaian serba hitam.
"Yang mau terlibat besok (tanggal 21, hari ini) titik kumpul di masjid Pemprov jam 1 siang, bajunya serba hitam ya," ujarnya.
Bagi warga yang tidak bisa hadir langsung, Irma membuka jalur donasi. Ia membagikan foto QRIS dengan tulisan Gerakan Rakyat Menggugat.
Baliho yang dipersiapkan mahasiswa memuat sejumlah keresahan dan tuntutan. Isu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur menjadi salah satu sorotan utama.
Salah satu baliho memuat tulisan "Hidup makin susha, bencana makin parah." Baliho lainnya berisi seruan "Call Out KPK."
Rencana demonstrasi muncul setelah beredarnya video yang diduga memperlihatkan intimidasi terhadap mahasiswa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda. Pelaku yang diduga terlibat disebut Brigadir Polisi Satu ART, ajudan Gubernur Kaltim.
Peristiwa itu disebut terjadi pada Senin (19/10/2026), setelah mahasiswa menggelar demonstrasi terkait penanganan karhutla di Kaltim. Insiden berlangsung di sekitar Masjid Nurul Mu'minin, yang berada di lingkungan Kantor Gubernur Kaltim.
Berdasarkan informasi yang beredar, kejadian bermula saat mahasiswa menyelesaikan aksi dan bersiap membubarkan diri. Pada waktu bersamaan, Rudy Mas'ud datang ke masjid untuk menunaikan salat Magrib bersama dua orang ajudannya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Provinsi Kaltim maupun Kepolisian terkait video dugaan intimidasi tersebut. Situasi menjelang aksi pada Rabu siang masih menunggu konfirmasi aparat keamanan di lapangan.