KALIMANTAN TIMUR — Kritikus film Washington Post Ann Hornaday meninggal dunia pada usia 66 tahun, meninggalkan warisan puluhan tahun di dunia kritik film Amerika. Hornaday dikenal lewat buku "Talking Pictures" dan status finalis Pulitzer Prize, sekaligus diingat kolega sebagai sosok yang hangat dan terbuka. Kepergiannya memantik kenangan dari jurnalis yang pernah bekerja bersamanya.
Kabar duka datang dari lingkup kritikus film Amerika Serikat. Ann Hornaday, kritikus senior The Washington Post, meninggal pada usia 66 tahun. Sepanjang kariernya, Hornaday menulis ribuan ulasan film dan menjadi salah satu suara paling berpengaruh di ruang redaksi budaya.
Nama Hornaday bukan sekadar byline di halaman budaya. Ia merilis buku "Talking Pictures" yang membedah cara menonton dan memahami film secara lebih mendalam. Karyanya itu memperkuat posisinya sebagai kritikus yang serius, bukan sekadar penonton yang menulis kesan.
Pengakuan datang lewat status finalis Pulitzer Prize. Sejumlah ulasannya juga sempat viral di kalangan pembaca media Amerika, tanda bahwa tulisannya mampu menjangkau audiens yang lebih luas dari lingkaran kritikus.
Kenangan terkuat tentang Hornaday justru datang dari sisi personal. Seorang kolega yang bergabung ke The Washington Post pada 2017 mengenang bahwa Hornaday sudah memperlakukannya seperti keluarga bahkan sebelum mereka satu kantor. Perpindahan dari Los Angeles Times ke Post tidak mengubah cara Hornaday bersikap.
Pertemuan pertama mereka terjadi di Cannes Film Festival awal 2010-an, di sebuah apartemen tempat wawancara talent berlangsung. Seorang publicist indie bernama Jeff Hill memperkenalkan keduanya. Saat itu, sang kolega merasa canggung karena belum mengenal Hornaday.
"Of course," kata Hornaday hangat, seolah mereka sudah lama kenal. Gestur kecil itu meninggalkan kesan mendalam bagi jurnalis yang saat itu masih merasa baru di lingkaran wartawan Cannes.
Hornaday tinggal di Baltimore selama bertahun-tahun, tapi tumbuh besar di Iowa dan tidak pernah sepenuhnya kehilangan aksen Midwest-nya. Kolega mengenangnya sebagai pribadi yang langsung membuat orang merasa diterima, memperkenalkan siapa pun yang ia temui ke orang lain di sekitarnya.
Saat kolega menghadapi momen sulit atau persimpangan karier, Hornaday selalu merespons dengan ajakan sederhana: "Call me later." Ia kemudian menyisihkan waktu di sela tenggat tulisan dan jadwal screening untuk mendengarkan, kadang setengah jam, kadang lebih lama.
Ia tidak suka disebut mentor atau panutan. Bagi Hornaday, ia hanya menjadi dirinya sendiri. Namun sikap itu tetap terasa menginspirasi bagi orang-orang di sekitarnya.
Kolega menyebut Hornaday sebagai sosok "chipper-cynical", istilah yang menangkap dua sisi kepribadiannya. Ia tidak naif soal kemunafikan atau kelemahan di sekitarnya, tapi selalu menyimpan pandangan cerah tentang bagaimana hal-hal bisa diperbaiki.
Standar tinggi tetap ia pasang untuk karya film. Sebuah ulasan positif harus diperjuangkan. Tapi begitu pintu ruang screening tertutup, tembok itu luruh dan Hornaday kembali menjadi pribadi yang terbuka.
Setelah bergabung di Post, sang kolega sering menghubunginya soal hal-hal ganjil di dunia jurnalisme atau dinamika di kantor. Saat satu momen krisis kecil terasa besar, Hornaday tidak mengecilkan kekhawatiran itu. Ia ikut merasakan ketidakpercayaan yang sama, lalu menawarkan strategi perbaikan yang masuk akal.
Selama lebih dari dua dekade di The Washington Post, Hornaday meninggalkan jejak pada puluhan hingga ratusan jurnalis yang pernah berinteraksi dengannya. Bagi pembaca Indonesia yang mengikuti kritik film internasional, nama Hornaday tetap relevan sebagai contoh kritikus yang tajam tanpa kehilangan sisi manusiawi.