KALIMANTAN TIMUR — Terapi somatik atau somatic healing makin dikenal sebagai pendekatan untuk mengenali kaitan antara pikiran dan tubuh saat menghadapi stres berkepanjangan. Tekanan pekerjaan, tuntutan akademik, dan kehidupan sosial membuat banyak orang kelelahan secara emosional sekaligus mengalami respons fisik seperti otot menegang, jantung berdebar, atau perut tidak nyaman.
Respons fisik semacam itu muncul karena pengalaman emosional dan reaksi tubuh saling berkaitan. Stres yang berlangsung lama dan pengalaman traumatis dapat membuat tubuh tetap waspada meski situasi pemicunya sudah berlalu, menurut laporan Channel News Asia.
Gejala yang muncul bisa berupa ketegangan fisik, kewaspadaan berlebihan, kelelahan, hingga perasaan terputus dari diri sendiri. Kendati demikian, keluhan fisik seperti itu tetap bisa punya penyebab lain dan tidak otomatis menandakan seseorang mengalami trauma atau burnout.
Somatic therapy menggabungkan psikoterapi dengan teknik yang berfokus pada tubuh. Tujuannya membantu seseorang mengenali dan mengelola respons fisik maupun emosional yang berkaitan dengan pengalaman hidupnya.
Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa pengalaman emosional bisa terhubung dengan sensasi fisik. Klien dilatih memperhatikan respons tubuh saat menghadapi stres atau emosi sulit, melalui kesadaran terhadap sensasi, gerakan lembut, dan eksplorasi verbal bersama terapis.
Salah satu teknik yang dipakai adalah somatic tracking, yakni mengamati sensasi tubuh secara bertahap tanpa langsung menghakimi atau berusaha menghilangkannya. Terapis juga bisa memakai latihan pernapasan, teknik grounding dengan merasakan pijakan kaki, serta gerakan sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan klien.
Somatic Experiencing, salah satu pendekatan terapi berbasis tubuh, berfokus pada respons fisiologis yang berkaitan dengan pengalaman traumatis. Praktiknya dijalankan bertahap agar klien tidak kewalahan saat berhadapan dengan sensasi atau emosi yang muncul.
Istilah somatic healing meluas lewat media sosial, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap kesehatan mental. Popularitas itu membuat pendekatan ini semakin dikenal, terutama di kalangan generasi muda yang mencari cara mengelola kelelahan emosional.
Meski begitu, terapi somatik bukan sekadar tren relaksasi atau jalan pintas menghilangkan stres. Pendekatan ini merupakan bentuk dukungan psikologis yang penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi tiap individu.
Istilah somatic healing yang ramai di media sosial juga perlu dibedakan dari terapi somatik profesional. Latihan sederhana seperti memperhatikan napas, merasakan pijakan kaki, atau melakukan gerakan lembut bisa membantu seseorang kembali memusatkan perhatian pada kondisi saat ini.
Praktik tersebut bukan pengganti terapi, terutama ketika stres sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Proses yang bertahap dan rasa aman selama terapi menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Terapi somatik dapat dipertimbangkan oleh orang yang mengalami stres berkepanjangan, kecemasan, atau kesulitan memahami respons emosionalnya. Cara ini membantu sebagian orang mengenali sinyal tubuh dan membangun kemampuan mengatur respons terhadap situasi pemicu stres.
Manfaatnya tidak berarti semua orang memperoleh hasil sama. Somatic Experiencing menunjukkan potensi dalam penanganan trauma, tetapi penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memperkuat bukti efektivitasnya.
Terapi somatik juga tidak menggantikan terapi bicara. Keduanya dapat dipakai secara saling melengkapi, bergantung pada kebutuhan dan kondisi individu. Pendampingan profesional memastikan proses berjalan sesuai kemampuan seseorang menghadapi emosi yang muncul.
Pendekatan berbasis tubuh tidak selalu cocok untuk semua orang. Pengalaman yang memunculkan ketidaknyamanan perlu dibicarakan dengan tenaga profesional.
Kelelahan emosional akibat kerja tidak cukup diselesaikan dengan imbauan agar seseorang lebih rajin melakukan self-care. Beban kerja, waktu istirahat, dukungan sosial, dan kondisi lingkungan tetap perlu diperhatikan.
Konsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental membantu menentukan dukungan yang sesuai ketika kelelahan emosional terus berlangsung. Pendekatan yang tepat bergantung pada kebutuhan masing-masing, bukan pada tren yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial.