KALIMANTAN TIMUR — Sutradara asal Iran Majid Majidi memenangi penghargaan Best Film di ajang Busan International Film Festival ke-31 melalui film Midday Meal. Film ini mengangkat kisah seorang guru sekolah pedesaan yang menghadapi pilihan moral sulit demi memastikan murid-muridnya tetap menerima makan siang gratis di tengah pemotongan anggaran pemerintah. Trofi diserahkan langsung oleh ketua juri Kompetisi tahun ini, sutradara kenamaan China Zhang Yimou.
Kemenangan Majid Majidi di Busan International Film Festival ke-31 menegaskan posisinya sebagai salah satu pembuat film Asia paling konsisten dalam mengangkat isu sosial. Film Midday Meal bersaing dengan sejumlah karya dari negara-negara Asia, sebagian besar tayang perdana di dunia dalam kompetisi utama.
Midday Meal mengikuti perjalanan seorang guru sekolah pedesaan yang harus membuat keputusan moral berat. Tujuannya satu: memastikan para muridnya tetap mendapat program makan siang gratis meski anggaran pemerintah dipangkas.
Pendekatan humanis dan realisme sosial dalam film ini sejalan dengan karya-karya Majidi sebelumnya. Kritikus Variety, Kambole Campbell, menilai gaya pengambilan gambar Majidi yang membumi justru memperkuat realitas dingin yang coba ditelusuri tokoh utamanya, sekaligus menghapus kesan menggurui.
Sepanjang kariernya, Majidi dikenal lewat film The Color of Paradise dan Sun Children yang tayang di kompetisi Venice 2020. Namanya paling dikenal internasional berkat Children of Heaven (1998), produksi Iran pertama yang pernah masuk nominasi kategori yang kini bernama Best International Feature di Oscar.
Usai menerima trofi dari Zhang Yimou, Majid Majidi menyampaikan pidato yang menyinggung perang di Iran. Ia secara khusus mengecam serangan terhadap sekolah di Minab pada Februari tahun ini yang menewaskan 156 warga sipil, termasuk 120 anak sekolah, akibat serangan militer Amerika Serikat.
"They will stand firm to the end and fight to get their independence back," ujar Majidi. Ia menutup pidatonya dengan harapan: "I wish for a future with no war."
Kemenangan di Busan membuka jalan Majidi kembali bersaing di ajang Academy Awards. Di bawah aturan baru Academy yang diberlakukan tahun ini, juara Busan otomatis lolos kualifikasi Best International Feature tanpa perlu pengajuan resmi dari negara asal film.
Iran sendiri tahun ini sudah mendaftarkan film lain berjudul Land of Angels. Busan menjadi festival keenam dan terakhir dalam kalender yang mendapat status kualifikasi otomatis tersebut.
Film lain yang mendapat jaminan kelayakan serupa antara lain Shame and Money dan To Hold a Mountain dari Sundance, Yellow Letters dari Berlin, Fjord dan Woman Unknown dari Cannes, serta Angh dari Toronto.
Nama sutradara Indonesia Eddie Cahyono masuk jajaran pemenang lewat Special Jury Prize untuk film Ibuku. Film ini mengisahkan seorang janda kelas pekerja asal Indonesia yang berjuang bertahan hidup ketika anak perempuannya yang sudah dewasa dipenjara di Arab Saudi.
Kritikus Variety menilai Ibuku paling memikat saat kualitas spiritualnya terasa alih-alih ditampilkan secara eksplisit. Pencapaian ini menambah deretan prestasi sineas Indonesia di forum film internasional.
Penghargaan akting yang bersifat gender-neutral tahun ini dibagi dua perempuan. Kashun Himeno mendapat pujian lewat perannya sebagai pelajar yang jatuh cinta di film Satoko Always, sementara Zhou Xun memerankan ibu tunggal yang berduka atas kematian ayahnya dalam The First Taste of Loneliness garapan Gu You.
Juri Kompetisi tahun ini dipimpin Zhang Yimou, didampingi sutradara Bi Gan, Kei Ishikawa, dan July Jung, aktor Samal Yeslyamova dan Choi Hee-seo, serta produser Tran Thi Bich Ngoc. Upacara penutupan digelar di Busan Film Center dengan aktor Korea Selatan Yim Si-wan sebagai pembawa acara.
Di ajang Busan Vision Awards, produksi gabungan Mongolia-Jerman berjudul Zogsool membawa pulang empat penghargaan sekaligus.