Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp17.960, Terbebani Sinyal Hawkish The Fed dan Isu MSCI

Penulis: Valdi Pratama  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:36:01 WIB
Rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini.

KALIMANTAN TIMUR — Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah ke rentang Rp17.910–Rp17.960 per dolar AS pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Sikap agresif The Fed dan kekhawatiran stabilitas pasar modal domestik membuat pelaku pasar valuta asing memilih posisi defensif.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut dua tekanan utama yang membebani rupiah saat ini. Dari eksternal, ekspektasi kelanjutan pengetatan moneter The Fed masih kuat. Dari domestik, kekhawatiran seputar stabilitas pasar modal ikut menahan minat investor masuk ke aset rupiah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh ekspektasi kelanjutan pengetatan moneter The Fed serta kekhawatiran seputar stabilitas pasar modal domestik," ujar Ibrahim di Jakarta.

Pejabat The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Lanjutan

Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menegaskan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target. Gubernur The Fed Christopher Waller menyuarakan pandangan senada, mengisyaratkan potensi kenaikan tambahan apabila rilis data ekonomi bergerak sesuai perkiraan.

Pasar uang internasional merespons sinyal tersebut dengan mengerek posisi indeks dolar AS. Investor global kini menahan langkah menjelang pengumuman sejumlah indikator harga dan konsumsi acuan.

Data Inflasi hingga Penjualan Ritel Jadi Penentu Arah Dolar

Sepanjang pekan ini, perhatian pasar terpusat pada rilis data inflasi tingkat konsumen dan produsen AS, angka penjualan ritel, serta pernyataan lanjutan para petinggi bank sentral. Kombinasi data tersebut akan menentukan apakah ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan menguat atau mereda.

Bagi pelaku pasar valuta asing di dalam negeri, sikap moneter ketat di Negeri Paman Sam menjadi faktor utama yang membatasi ruang penguatan rupiah. Selama indeks dolar AS bertahan di level tinggi, tekanan terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah cenderung berlanjut.

Isu MSCI Perkuat Sentimen Defensif di Pasar Domestik

Selain faktor eksternal, kekhawatiran seputar stabilitas pasar modal domestik turut membebani rupiah. Isu terkait evaluasi MSCI terhadap pasar saham Indonesia membuat sebagian investor asing menahan diri dari eksposur ke aset berdenominasi rupiah.

Kondisi ini menciptakan kombinasi yang kurang menguntungkan bagi nilai tukar. Tekanan dari penguatan dolar AS datang bersamaan dengan arus modal yang cenderung wait and see di pasar saham domestik.

Rentang Pergerakan dan Faktor yang Perlu Dicermati

Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak di rentang Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS untuk perdagangan hari ini. Rentang tersebut mencerminkan bias pelemahan, meski masih ada ruang fluktuasi dua arah.

Pelaku usaha yang memiliki kebutuhan valuta asing perlu mencermati jadwal rilis data ekonomi AS pekan ini. Lonjakan volatilitas berpotensi terjadi saat data inflasi dan penjualan ritel diumumkan, terutama jika hasilnya di atas perkiraan pasar.

Bagi investor, arah pergerakan indeks dolar AS dan perkembangan isu MSCI menjadi dua variabel utama yang menentukan apakah rupiah mampu menahan pelemahan lebih dalam atau justru menembus level Rp17.960.

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top