Pertemuan IMF-World Bank di Bangkok Dikepung Perang Teluk dan Krisis Utang Global

Penulis: Zaki Mubarak  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 11:06:31 WIB
Peserta memadati Queen Sirikit National Convention Center, Bangkok, untuk pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia.

KALIMANTAN TIMUR — Lebih dari 18.000 peserta dari puluhan negara memadati Queen Sirikit National Convention Center, Bangkok, untuk pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia. Perhelatan itu berlangsung di tengah guncangan pasokan energi terparah sepanjang sejarah, krisis utang global, dan ancaman perang Iran yang telah memasuki bulan kedelapan. Beban utang publik dunia menyentuh level tertinggi sejak Perang Dunia II.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, membuka perhelatan itu dengan peringatan yang tidak biasa. "Winter is coming (Musim dingin sedang tiba)," tegas Georgieva, menggambarkan betapa rapuhnya fondasi ekonomi dunia saat ini.

Bangkok menjadi panggung bagi para menteri keuangan dan gubernur bank sentral untuk mencari jalan keluar dari tumpukan persoalan yang saling bertumpuk. Bukan hanya soal perang, tetapi juga energi, pangan, dan utang.

Guncangan Energi dan Pangan yang Saling Memperkuat

Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi global sempat bertahan pasca-penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Namun, tekanan baru kini datang beruntun dari berbagai penjuru.

Guncangan pasokan bahan bakar minyak memicu lonjakan tajam harga diesel akibat kehancuran kapasitas kilang. Kenaikan harga pupuk mengancam rantai pasok makanan di banyak negara berkembang.

"Ini bukan hanya soal El Niño berdiri sendiri, melainkan kombinasinya. Apa yang terjadi pada harga pupuk? Biaya energi? Dan beban utang? Kombinasi inilah yang menciptakan tantangan raksasa," jelas Banga.

Ancaman bencana iklim turut membayangi. Gelombang fenomena iklim "Super" El Niño diproyeksikan para ahli dapat memicu hingga 450.000 kematian akibat gelombang panas ekstrem.

Ketidakhadiran Menkeu AS dan Kehadiran Ketua The Fed

Sorotan publik tertuju pada ketidakhadiran Menteri Keuangan AS, Scott Bessent. Ia memilih bertahan di Washington untuk mengurusi agenda domestik, langkah yang berpotensi memicu kekecewaan di antara para menteri keuangan G20.

Di tengah eskalasi perang dan ketegangan politik luar negeri, kehadiran Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dipastikan untuk berdiskusi langsung dengan pimpinan IMF.

Ledakan Utang Negara Berkembang: Bunga Tembus USD400 Miliar

Satu masalah terbesar yang membayangi para pembuat kebijakan di Bangkok adalah beban utang publik global. Nilainya menyentuh level tertinggi sejak Perang Dunia II dan diproyeksi melampaui 100% dari PDB dunia sebelum 2030.

Bagi negara berkembang, beban pembayaran bunga utang menembus USD400 miliar. Angka itu menggerus ruang fiskal yang seharusnya bisa dipakai untuk belanja produktif.

Banga menekankan bahwa kombinasi tekanan energi, pangan, iklim, dan utang menciptakan tantangan yang tidak bisa diselesaikan satu per satu. Pendekatan terpisah tidak akan cukup.

Apa Artinya bagi Pasar dan Negara Berkembang

Bagi Indonesia, pertemuan ini menjadi ajang mengukur seberapa besar ruang fiskal yang tersisa di tengah tekanan global. Pemerintah perlu mencermati dampak kenaikan harga energi dan pupuk terhadap inflasi domestik.

Investor obligasi juga mencermati sinyal dari Bangkok. Ketegangan di Timur Tengah dan lonjakan utang global bisa mendorong capital outflow dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pertemuan tahunan IMF-World Bank ini akan berlangsung beberapa hari ke depan. Hasil diskusi di Bangkok akan menjadi acuan bagi banyak negara dalam menyusun kebijakan fiskal dan moneter tahun depan.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top