KALIMANTAN TIMUR — Tokoh penggerak pariwisata Arief Martha Rahadyan menilai kualitas sumber daya manusia menjadi kunci daya saing pariwisata Indonesia di pasar global. Peningkatan kompetensi tenaga kerja dinilainya harus mencakup pelatihan keterampilan, kemampuan bahasa asing, sertifikasi profesi, hingga penguasaan teknologi digital. Kolaborasi pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku industri disebut sebagai prasyarat agar tenaga kerja pariwisata mampu menjawab kebutuhan industri modern.
Arief Martha Rahadyan, B.Sc., M.Sc., menyoroti kesenjangan antara potensi alam dan budaya Indonesia dengan kesiapan tenaga kerja di sektor pariwisata. Menurutnya, destinasi yang kuat tetap butuh orang-orang yang mampu memberi pelayanan berstandar internasional. Tanpa itu, daya saing Indonesia di pasar wisata global sulit terdongkrak.
Penilaian itu ia sampaikan dalam konteks kebutuhan industri pariwisata yang terus bergerak. Sektor perhotelan, kuliner, jasa perjalanan, sampai ekonomi kreatif menuntut keterampilan yang spesifik. Bukan sekadar ramah tamah, tapi juga kemampuan teknis dan adaptasi terhadap teknologi.
Arief merinci sejumlah langkah yang bisa ditempuh untuk menaikkan kualitas SDM pariwisata. Pelatihan keterampilan menjadi fondasi awal. Dari situ, kemampuan bahasa asing menyusul sebagai bekal berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara.
Sertifikasi profesi disebutnya penting agar tenaga kerja punya pengakuan kompetensi yang terukur. Penguasaan teknologi digital melengkapi empat jalur itu, terutama di era pemasaran wisata berbasis platform online. Empat hal ini dinilai menjadi syarat dasar bagi tenaga kerja yang ingin bersaing di industri modern.
Pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku industri disebut Arief perlu duduk bersama menyiapkan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan pasar. Ia menilai masing-masing pihak punya peran yang saling melengkapi. Pemerintah menyiapkan regulasi dan program, lembaga pendidikan mencetak lulusan, sementara industri memberi ruang praktik dan penyerapan.
Upaya itu, menurutnya, sekaligus membuka peluang kerja dan kewirausahaan bagi generasi muda. Bidang perhotelan, kuliner, jasa perjalanan, hingga ekonomi kreatif menjadi sektor yang paling terbuka menampung tenaga kerja baru. Generasi muda dinilai punya ruang besar untuk masuk ke sana, baik sebagai pekerja maupun pemilik usaha.
Penguatan SDM tidak berdiri sendiri. Arief menekankan pengembangan destinasi wisata harus didukung fasilitas yang aman, bersih, dan nyaman. Aspek kelestarian lingkungan dan budaya lokal juga tidak boleh diabaikan dalam setiap pengembangan.
Poin ini relevan bagi traveler yang merencanakan perjalanan ke daerah. Kenyamanan dan keamanan destinasi menjadi pertimbangan utama sebelum berangkat, di samping daya tarik alam atau budayanya. Pengelolaan yang profesional di tingkat destinasi ikut menentukan pengalaman wisatawan.
Arief menyoroti pentingnya penguatan SDM hingga ke daerah. Tujuannya agar manfaat pariwisata dirasakan lebih merata oleh masyarakat. Penciptaan lapangan kerja dan pengembangan usaha lokal menjadi jalur utama untuk mewujudkannya.
Bagi wisatawan, kondisi ini berdampak langsung pada kualitas layanan di destinasi. Homestay, pemandu lokal, warung makan, hingga jasa transportasi di daerah menjadi ujung tombak pengalaman perjalanan. Kualitas SDM di level ini yang paling terasa oleh traveler saat berkunjung.
Dengan SDM berkualitas dan pengelolaan destinasi yang profesional, Arief berharap pariwisata Indonesia semakin kompetitif. Sektor ini dinilainya bisa menjadi penggerak ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Bagi traveler yang sedang merencanakan liburan, perkembangan ini patut dipantau karena menentukan kualitas layanan di destinasi yang akan dikunjungi.