Pemerintah Kota Balikpapan memperluas akses pelatihan keterampilan nonformal dan peluang kerja formal bagi penyandang disabilitas untuk mendorong kemandirian ekonomi kelompok rentan. Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian (DKUMKMP) Balikpapan menyiapkan sejumlah program berbasis minat, mulai dari kerajinan manik-manik, pembuatan motif batik, hingga pengolahan produk pangan lokal. Langkah ini juga disertai koordinasi lintas instansi dengan Dinas Ketenagakerjaan untuk memetakan kebutuhan industri dan menyiapkan skema pelatihan vokasi.
BALIKPAPAN — Kepala DKUMKMP Kota Balikpapan Heruressandy Setia Kesuma menyatakan pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas tidak harus selalu mengikuti jalur formal. Menurut dia, pendekatan melalui pendidikan nonformal dinilai lebih efektif sebagai pintu masuk untuk mengasah potensi dan bakat para penyandang disabilitas.
"Pelatihan keterampilan untuk rekan-rekan disabilitas tidak harus selalu berpatokan pada jalur formal. Yang terpenting adalah mengidentifikasi minat dan bakat mereka terlebih dahulu, lalu disesuaikan dengan jenis pelatihan praktis yang tepat," kata Heruressandy di Balikpapan, Senin.
Pemkot Balikpapan menyiapkan sejumlah program pelatihan yang disesuaikan dengan minat peserta. Keterampilan yang dilatih mencakup kerajinan membuat manik-manik, pembuatan motif batik, hingga pengolahan produk pangan lokal.
"Di Dekranasda ada pelatihan membuat manik, membuat motif batik, kemudian juga pengolahan. Itu membutuhkan tenaga-tenaga yang fokus memberikan pengetahuan tentang keterampilan nonformal," ujarnya.
Untuk memastikan pembinaan berjalan optimal dan berkelanjutan, Pemkot menyiagakan tenaga pendamping dengan kompetensi khusus di bidang keterampilan nonformal.
Heruressandy menekankan keberadaan pendamping sangat krusial dalam proses pembinaan. Tujuannya agar peserta tidak sekadar menyerap materi pelatihan, melainkan mampu mengembangkan usahanya secara mandiri di tengah masyarakat.
Pendekatan ini diarahkan untuk mendorong terbentuknya wirausaha mandiri di sektor ekonomi kreatif. Peserta diharapkan mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi dari keterampilan yang diperoleh.
Selain mendorong wirausaha mandiri, Pemkot Balikpapan mulai membuka jalan bagi penyandang disabilitas untuk menembus pasar kerja di sektor formal. DKUMKMP menjalin koordinasi lintas instansi bersama Dinas Ketenagakerjaan Kota Balikpapan.
Koordinasi itu dilakukan untuk memetakan kebutuhan industri dan menyiapkan skema pelatihan vokasi yang sesuai. Langkah tersebut diambil agar kondisi fisik tidak lagi menjadi pembatas bagi warga disabilitas dalam berkarya dan berkontribusi di dunia kerja.
"Harapannya mereka juga bisa hadir di tengah-tengah kita, termasuk dalam pekerjaan formal," tegas Heruressandy.
Perluasan kesempatan kerja dan fasilitas pelatihan nonformal disebut sebagai wujud nyata komitmen Pemkot Balikpapan. Heruressandy menyatakan pihaknya ingin membangun ekosistem perekonomian daerah yang inklusif dan berkeadilan.
Dengan kombinasi pelatihan berbasis minat dan pembukaan akses kerja formal, penyandang disabilitas di Balikpapan diharapkan dapat lebih mandiri secara ekonomi. Pemkot akan terus memperluas jangkauan program ini ke kelompok rentan lainnya di wilayah tersebut.