KALIMANTAN TIMUR — Cabang virtual taekwondo resmi dipertandingkan di Asian Games 2026 yang berlangsung di gimnasium dekat Nagoya, Jepang. Dua atlet bertarung tanpa kontak fisik langsung, mengandalkan headset VR dan sensor gerak yang dipasang di punggung, paha, serta tulang kering. Format ini membuka kategori lintas gender dan tanpa batas kelas berat, sesuatu yang tidak mungkin diterapkan di taekwondo konvensional.
World Taekwondo mendukung penuh kehadiran cabang ini di panggung olahraga internasional. Federasi menilai virtual taekwondo tetap menuntut kemampuan fisik layaknya olahraga asli, tetapi jauh lebih aman dari risiko cedera.
Seni bela diri asal Korea yang berusia lebih dari 2.000 tahun itu kini bertransformasi menjadi disiplin esports. Atlet tidak lagi berhadapan langsung di matras, melainkan mengendalikan avatar di arena digital.
Sistem pertandingan virtual taekwondo menggabungkan perangkat keras canggih dengan mekanisme gim. Setiap gerakan tubuh atlet diterjemahkan menjadi aksi avatar secara real-time.
Atlet mengenakan headset VR dan memasang sensor di area punggung, paha, serta tulang kering. Sensor ini merekam setiap aksi tubuh secara presisi untuk mengendalikan avatar di dalam gim.
Pertandingan berjalan dalam skema best of three dengan durasi 60 detik per ronde. Dua atlet berdiri di area masing-masing yang berjarak beberapa meter, melayangkan tendangan fisik ke arah avatar lawan untuk menghabiskan health bar musuh.
Perbedaan paling mendasar dibanding taekwondo konvensional adalah ditiadakannya divisi serta dibukanya kategori campuran. Atlet pria dan wanita bisa bertemu di satu arena yang sama.
Darren Yap, atlet Singapura peraih medali perunggu, menilai format baru ini memberi fleksibilitas tinggi dan pengalaman sparring yang menyenangkan.
"Sangat menyenangkan bermain di sana. Anda bisa melihat bilah nyawa, karakter lawan, dan anggota tubuh sendiri lewat headset. Ini cara yang seru untuk melakukan sparring taekwondo tanpa kontak fisik, dan keren sekali karena wanita bisa bertanding dan mengalahkan pria," ujar Yap.
Peraih medali perak asal Vietnam, Chau Ngoc Tuyet Sang, yang mengalahkan Yap di semifinal, memiliki pandangan berimbang terkait regulasi tersebut.
"Keuntungannya adalah Anda tidak perlu khawatir tentang perbedaan berat badan. Namun kerugiannya, pria dan wanita memiliki perbedaan kekuatan fisik alami, di mana pria cenderung lebih kuat dan gerakan mereka bisa lebih cepat," ungkap Tuyet Sang.
Virtual taekwondo pertama kali mencuri perhatian publik saat tampil di ajang Olympic Esports Week 2023 di Singapura. Setahun kemudian, kejuaraan dunia pertamanya digelar pada 2024.
Kehadirannya di Asian Games Nagoya menjadi batu loncatan besar bagi olahraga digital berbasis ketangkasan fisik ini. Format virtual membuka peluang partisipasi lebih luas tanpa terkendala batasan fisik maupun risiko cedera.
Bagi industri esports Asia Tenggara, masuknya virtual taekwondo ke ajang multi-event resmi seperti Asian Games menandai pengakuan terhadap olahraga digital yang menggabungkan atletik dan teknologi. Federasi cabang olahraga lain kemungkinan akan mengikuti jejak serupa untuk menjangkau generasi muda.