BPBD Penajam Paser Utara bersama tim gabungan masih memadamkan dan mendinginkan kebakaran lahan gambut di RT 16, Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam, yang memasuki hari ketujuh. Sebanyak 75 personel dari enam instansi dikerahkan dengan tujuh mata semprot untuk menjangkau titik asap yang terdeteksi drone. Luas kawasan terbakar tercatat 36,88 hektare, sementara saluran sekunder yang mengering memaksa petugas mengandalkan saluran primer sebagai sumber air.
PENAJAM — Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut Petung belum bisa dihentikan meski sudah sepekan berjalan. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten PPU, Nurlaila, menyatakan pemantauan udara masih menemukan titik asap yang berpotensi kembali menyala.
"Penanganan masih dilakukan karena hasil pemantauan udara menunjukkan sejumlah titik asap gambut yang berpotensi kembali menjadi titik api," ujar Nurlaila di Penajam.
Sejumlah titik asap di lahan gambut terdeteksi berdasarkan pantauan drone. Petugas lapangan berupaya menjangkau lokasi-lokasi itu untuk melakukan pemadaman sekaligus pendinginan.
Kondisi medan menyulitkan proses tersebut. Lokasi titik asap berada jauh dari akses sumber air, sehingga petugas harus menarik selang sekitar 25-30 sambungan untuk mencapai area yang terbakar.
Sekitar lima hingga enam sambungan selang digunakan khusus untuk pengisian fleksibel tank. Proses penyemprotan pun memakan waktu dan tenaga besar.
Pada penanganan hari ketujuh, tim gabungan mengoperasikan tujuh mata semprot. Rinciannya, empat unit dari BPBD, satu dari Dinas Pertanian, dan dua dari Manggala Agni.
Kekuatan personel total mencapai 75 orang. Komposisinya, 30 personel BPBD, 15 petugas Dinas Pertanian, lima Manggala Agni, 12 Satpol PP, dan 13 personel Polres PPU.
Satpol PP dan Direktorat Samapta Polres PPU dikerahkan untuk memperkuat penanganan di lapangan. Pemadaman dan pendinginan seluruhnya menggunakan mesin portable dan slip on.
"Pemadaman dan pendinginan seluruhnya menggunakan mesin portable dan slip on dengan memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di lokasi," ujar Nurlaila.
Ketersediaan air menjadi persoalan paling pelik dalam operasi kali ini. Saluran sekunder di sekitar lokasi karhutla telah mengering, sehingga petugas bergantung pada saluran primer.
Dukungan datang dari pihak swasta. PT KMS menyiagakan mesin portable berkapasitas besar di kawasan perbatasan lokasi kebakaran.
"Selain itu, PT KMS turut mendukung penanganan dengan menyiagakan mesin portable berkapasitas besar di kawasan perbatasan lokasi kebakaran," kata Nurlaila.
BPBD PPU mencatat hingga 2 Oktober 2026 terjadi karhutla sebanyak 221 kali di kabupaten ini. Total area yang terbakar mencapai 503,47 hektare.
Angka tersebut menempatkan kebakaran di Petung sebagai salah satu titik yang paling lama ditangani. Luas 36,88 hektare di lokasi ini setara sekitar tujuh persen dari total lahan terbakar sepanjang periode pencatatan.
Tim gabungan belum menetapkan tenggat penghentian operasi. Pemantauan udara dan penyemprotan lanjutan akan terus dilakukan selama titik asap masih terdeteksi di lahan gambut tersebut.