Gubernur Kaltim Sebut Erau Adat Kutai 2026 Milik Semua Suku, Puncak Bepelas Digelar di Tenggarong

Penulis: Uki Damayanti  •  Senin, 28 September 2026 | 11:01:02 WIB
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud menghadiri malam terakhir Bepelas Erau Adat Kutai 2026 di Keraton Kutai Kartanegara, Tenggarong.

TENGGARONG — Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud menyaksikan langsung rangkaian ritual adat pada malam terakhir Bepelas Erau Adat Kutai 2026. Ia hadir di Keraton Kutai Kartanegara, Tenggarong, bersama istrinya, Sarifah Suraidah Rudy Mas'ud.

Malam ketujuh Bepelas itu menjadi puncak pelaksanaan Erau tahun ini. Rudy menilai keberlangsungan tradisi tersebut penting tidak hanya bagi masyarakat Kutai, tetapi juga bagi upaya menjaga kekayaan budaya Indonesia.

Ketayongan, Ritual Sakral Penutup Bepelas

Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin lebih dulu menjalani Prosesi Ketayongan. Dalam ritual sakral itu, Sultan menginjakkan kaki di atas batu mintar pelabuhan dengan diiringi tarian serta rangkaian adat.

Prosesi berlangsung di hadapan kerabat Sultan dan tokoh adat yang memimpin jalannya ritual. Sejumlah penari tradisional tampil, termasuk Belian yang diperankan laki-laki dan Dewa yang diperankan perempuan.

Usai Bepelas dan Ketayongan rampung, Sultan mengikuti jamuan makan malam. Ia kemudian naik ke bagian depan Setinggil untuk menyaksikan Tari Topeng Kemindu.

Rudy: Erau Harus Terus Dijaga Generasi Muda

Rudy menyatakan pelestarian tradisi Erau perlu diteruskan kepada generasi berikutnya. Menurut dia, regenerasi penjaga adat menjadi kunci agar warisan leluhur tidak putus.

"Erau ini pesta adat yang harus terus kita jaga dan lestarikan, terutama bagi generasi muda agar dapat memelihara warisan adat istiadat leluhur," kata Rudy.

Ia mengaku bangga melihat tradisi dan budaya Kutai masih bertahan hingga kini. Sejarah Kutai, menurut dia, menempati posisi penting dalam perjalanan peradaban di Nusantara.

Rudy berharap Erau tidak berhenti sebagai agenda perayaan tahunan. Rangkaian kegiatan itu dinilainya bisa menjadi ruang merawat sekaligus mengembangkan seni dan tradisi leluhur.

"Semoga pesta adat ini bukan sekadar perayaan semata, tetapi menjadi upaya bersama untuk menjaga, melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya adat leluhur," ujarnya.

Erau dan Modal Sosial Kerukunan di Kaltim

Rudy menekankan Erau telah berkembang melampaui batas identitas satu kelompok masyarakat. Keberadaan berbagai suku yang hidup berdampingan di Kalimantan Timur dinilainya menjadi kekuatan menjaga kebudayaan dan kerukunan daerah.

"Erau bukan semata milik etnis Kutai. Erau sudah menjadi kekayaan budaya bangsa dan semua suku ikut menjaga dan melestarikannya," katanya.

Ia menambahkan, kehidupan masyarakat Kutai yang berdampingan dengan berbagai kelompok etnis menjadi salah satu modal sosial dalam menjaga keharmonisan di Kaltim.

"Kutai hidup berdampingan bersama suku-suku lainnya. Kedamaian dan keharmonisan menjadi pondasi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Kaltim," tuturnya.

Pejabat dan Tokoh yang Hadir

Malam terakhir Bepelas turut dihadiri Permaisuri Aji Ratu Sekar Asih. Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri hadir bersama istrinya, Andi Deezca Pravidhia Aulia.

Hadir pula kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, tokoh masyarakat, serta tokoh adat. Sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi Kaltim juga tampak, di antaranya Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekdaprov Kaltim Aji Muhammad Fitra Firnanda dan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim HM Faisal.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top