KALIMANTAN TIMUR — Apple menambahkan variable aperture ke kamera utama iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Fitur ini memungkinkan pengguna mengubah besar-kecil bukaan lensa secara fisik, bukan sekadar simulasi software. Tujuannya mengatur volume cahaya yang masuk sekaligus mengontrol depth of field atau rentang area fokus dalam foto.
Kamera utama 48 MP di lini Pro tersebut menyediakan empat pilihan aperture: f/1.48, f/1.8, f/2.8, dan f/4.0. Bukaan besar seperti f/1.48 menangkap lebih banyak cahaya dan menghasilkan latar belakang lebih blur. Sebaliknya, f/4.0 membuat area foto yang tajam menjadi lebih luas.
Fotografer Indonesia Bill Satya menyebut kemampuan ini sebagai salah satu peningkatan kamera paling menarik di iPhone 18 Pro Series. Menurutnya, pengguna kini mendapat kontrol yang lebih dekat dengan kamera profesional.
"Secara performa kameranya makin menarik, dari mulai kameranya dapat di-setting secara manual, aperture-nya dapat diset secara real sesuai keinginan kita," kata Bill kepada detikINET, Jumat (11/9/2026).
Dampaknya terasa pada karakter foto yang dihasilkan. Bill menilai depth of field jadi lebih terasa ketika aperture bisa diatur secara nyata, sehingga foto tampak lebih berdimensi.
"Pasti signifikan banget ya. Secara tidak langsung ketika variable aperture-nya bisa kita set secara real, depth of field dari sebuah foto juga akan semakin terasa. Jadi foto yang kita hasilkan juga bisa lebih berdimensi," jelasnya.
Selama ini smartphone mengandalkan computational photography untuk menciptakan efek bokeh di Portrait Mode. Software mengenali subjek, lalu mengaburkan latar belakang untuk mensimulasikan depth of field seperti kamera dengan sensor dan lensa lebih besar.
Variable aperture menawarkan pendekatan berbeda. Sebagian karakter depth of field dihasilkan secara optik saat foto ditangkap, bukan direkayasa setelahnya. Bill menilai hasilnya bisa terlihat lebih natural.
"Bisa, akan jauh lebih natural. Karena bokeh dan depth of field-nya rasanya akan sangat berbeda, yang real tercapture dari lensa dibandingkan yang dibuat secara digital," ungkap fotografer berkacamata ini.
Kontrol manual ini juga berguna untuk pemotretan portrait dan kondisi minim cahaya. Aperture besar seperti f/1.48 memungkinkan lebih banyak cahaya masuk sekaligus menghasilkan depth of field lebih tipis. Bukaan lebih kecil seperti f/4.0 menjaga lebih banyak bagian dalam frame tetap fokus.
"Men-set aperture secara manual sangat bermanfaat ketika kita ingin membuat foto portrait dan juga pada kondisi minim cahaya," ujarnya.
Variable aperture bukan barang baru di smartphone. Sejumlah produsen Android sebelumnya telah bereksperimen dengan aperture yang dapat berubah. Namun Bill melihat masuknya Apple berpotensi membuat fitur tersebut kembali mendapat perhatian lebih besar dari industri.
"Kemungkinan besar iya. Karena berkaca pada rilisan-rilisan sebelumnya memang HP Android sudah lebih menyajikan banyak fitur lebih awal daripada Apple," katanya.
Yang membedakan Apple, menurut Bill, bukan selalu menjadi yang pertama menghadirkan sebuah teknologi. Apple cenderung mengejar bagaimana fitur tersebut dioptimalkan agar manfaatnya terasa bagi pengguna.
"Tetapi menurut pandanganku, ketika Apple mengeluarkan sebuah fitur-fitur baru, Apple tidak pernah over promise dan selalu menyajikan fitur yang dapat kita optimalisasi dan bisa dirasakan langsung hasilnya," pungkasnya.
Bagi pengguna iPhone 18 Pro Series di Indonesia, variable aperture menambah satu lapis kontrol manual yang sebelumnya hanya ada di kamera dedicated. Efeknya akan paling terasa saat memotret portrait atau di kondisi cahaya rendah, di mana perbedaan bokeh optik dan bokeh digital paling mudah dibedakan.