KALIMANTAN TIMUR — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat surplus perdagangan nonmigas mencapai US$3,04 miliar pada Juni 2026. Angka ini menjadi penopang utama penurunan defisit total, meskipun kinerja impor masih terbebani oleh melonjaknya harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Selat Hormuz.
"Defisit pada Juni 2026 sebesar US$0,45 miliar menunjukkan penurunan dibanding defisit Mei 2026. Artinya, neraca perdagangan kita mulai membaik seiring dengan peningkatan ekspor," ujar Budi Santoso dalam keterangan resminya, Rabu (12/8/2026).
Secara kumulatif, total ekspor Indonesia pada Januari—Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar, tumbuh 4,13% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$135,23 miliar. Dari angka tersebut, neraca perdagangan keseluruhan masih mencatatkan surplus US$3,58 miliar.
Surplus tersebut ditopang oleh kinerja gemilang sektor nonmigas yang membukukan surplus US$19,35 miliar. Namun, sektor migas masih menjadi beban dengan defisit mencapai US$15,77 miliar sepanjang enam bulan pertama tahun ini.
Mendag Busan menjelaskan, lonjakan harga minyak menjadi biang keladi membengkaknya nilai impor. Data Bank Dunia per 2 Juli 2026 menunjukkan harga minyak dunia pada April—Mei 2026 sempat menembus level US$100 per barel, dipicu memanasnya situasi geopolitik di Selat Hormuz sejak Maret lalu.
Dampaknya terlihat jelas pada nilai satuan impor per ton. Untuk komoditas migas, nilai impor melonjak dari US$689 per ton pada Maret 2026 menjadi US$1.042 per ton di Mei 2026. Adapun pada Juni 2026, angkanya masih bertengger di level US$869 per ton.
"April-Mei merupakan periode puncak tingginya harga minyak dunia, mencapai sekitar US$110 per barel. Jika kita bandingkan nilai satuan impor per ton pada Maret dengan Juni, kenaikannya mencapai 14,24 persen. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab nilai impor kita menjadi lebih tinggi," ungkap Budi Santoso.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekspor, Kemendag mengandalkan sejumlah program prioritas. Indonesia saat ini telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang dengan negara mitra, sementara 2 perjanjian lainnya sedang dalam proses ratifikasi dan 13 perjanjian masih dalam tahap perundingan.
Kemendag juga mengerahkan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara untuk membuka akses pasar baru, termasuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sejak 2025, pemerintah menginisiasi otomatisasi pemanfaatan Surat Keterangan Asal (SKA) preferensi melalui sistem elektronik (e-SKA) yang kini telah berlaku untuk ekspor ke Uni Emirat Arab, Hongkong, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Australia, dan Pakistan.
Dengan total volume ekspor Juni 2026 yang mencapai 56,52 juta ton—naik 3,31% dari bulan sebelumnya—pemerintah optimistis target pertumbuhan ekspor tahun ini tetap dapat tercapai. Fokus utama kini adalah mencetak eksportir baru dan menjaga surplus di tengah volatilitas harga komoditas global.