NASA Rombak Total Strategi Eksplorasi Bulan, Tinggalkan Stasiun Orbit demi Bangun Pangkalan di Kutub Selatan

Penulis: Zaki Mubarak  •  Rabu, 27 Mei 2026 | 16:59:01 WIB
NASA mengumumkan perubahan strategi eksplorasi Bulan dengan fokus pembangunan pangkalan di kutub selatan.

KALIMANTAN TIMUR — Alih-alih membangun pos terdepan di orbit, NASA kini memilih langsung membangun rumah di tanah Bulan. Rencana yang baru dirilis ini membagi pembangunan pangkalan dalam tiga fase besar, dimulai dengan uji coba pendarat nirawak Blue Moon Mark 1 milik Blue Origin pada akhir 2026.

Dari Gateway ke Permukaan: Mengapa NASA Berbelok 180 Derajat

Selama bertahun-tahun, Gateway—stasiun orbit yang mirip versi mini Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS)—dianggap sebagai batu loncatan wajib menuju Bulan. Namun pada awal 2026, NASA mengevaluasi ulang strateginya. Hasilnya: proyek itu dinilai terlalu mahal dan memperlambat jadwal pendaratan manusia.

Keputusan untuk menyederhanakan arsitektur misi ini memangkas biaya operasional dan mempercepat jadwal Artemis. Setelah berminggu-minggu bungkam, badan antariksa itu akhirnya mempublikasikan peta jalan barunya. Isinya tegas: fokus ke permukaan, bukan ke orbit.

Tiga Fase Menuju Pangkalan Bulan

Fase pertama (2026–2029) akan menjadi yang paling padat. NASA menjadwalkan setidaknya 25 misi dan 21 pendaratan di permukaan dalam kurun tiga tahun. Misi-misi ini sepenuhnya robotik, dirancang untuk menguji teknologi dasar sebelum manusia tiba.

Salah satu yang paling krusial adalah uji terbang Blue Moon Mark 1 Endurance pada musim gugur 2026. Modul pendarat ini tidak membawa awak. Tugasnya semata-mata memvalidasi sistem navigasi, kontrol penurunan, dan pendaratan presisi di lingkungan Bulan yang ekstrem. Jika sukses, Blue Origin berencana meluncurkan versi berawak, Blue Moon Mark 2, sekitar tahun 2028.

Misi lain di fase ini akan mengirimkan rover, drone, reaktor permukaan, dan satelit generasi baru. Semua muatan ini bertugas menyiapkan lahan—secara harfiah—bagi infrastruktur manusia.

Fase kedua dimulai pada 2029, menandai perakitan infrastruktur semi-permanen. NASA akan mengirimkan hingga 60 ton kargo dalam 24 misi. Muatan tersebut mencakup reaktor nuklir permukaan untuk listrik, modul habitat awal, dan jaringan komunikasi yang lebih tangguh. Ini adalah langkah pertama menuju hunian bergilir.

Fase ketiga adalah skala penuh. Infrastruktur yang sudah ada akan diperkuat dan diperluas menjadi pusat-pusat berpenghuni tetap. NASA membayangkan kutub selatan Bulan dengan modul layak huni, sistem logistik untuk kargo dan kru, serta pengiriman rutin sekitar 38 ton kargo per tahun untuk perawatan dan ekspansi.

"Kami Akan Pergi untuk Sains dan Masa Depan"

Administrator NASA, Jared Isaacman, dalam pernyataan resmi menegaskan bahwa setiap misi—berawak maupun tidak—adalah kesempatan belajar. "Kami akan kembali ke permukaan Bulan, membangun infrastruktur untuk tinggal di sana, dan menguasai keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan beroperasi di salah satu lingkungan paling keras dan paling berbahaya yang bisa dibayangkan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ekspedisi ini bukan sekadar petualangan. "Kami pergi untuk sains, untuk semua yang bisa kami peroleh dari perspektif ekonomi dan teknologi, untuk inovasi yang akan membuat kehidupan lebih baik di Bumi, dan untuk mempersiapkan tujuan berikutnya yang pasti akan kami tuju."

Laporan ini pertama kali muncul di WIRED en Español dan telah disindikasikan dari bahasa Spanyol. Bagi Indonesia, meski tidak terlibat langsung, perkembangan ini membuka peluang bagi riset material dan sistem pendukung kehidupan di lingkungan ekstrem—relevan bagi LAPAN dan universitas yang aktif dalam sains antariksa.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: wired.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top