SAMARINDA — Ketimpangan akses pendidikan di Samarinda kembali menjadi perhatian menjelang SPMB. DPRD setempat menyoroti praktik perebutan kursi di sekolah negeri favorit yang justru mempersulit siswa dari keluarga kurang mampu.
Anggota DPRD Samarinda menilai persaingan ketat untuk masuk sekolah negeri unggulan tidak diimbangi dengan pemerataan kualitas antar sekolah. Akibatnya, siswa dengan nilai akademik tinggi dari keluarga mampu mendominasi, sementara siswa kurang mampu terancam gagal bersekolah.
“Ini masalah klasik yang terus berulang setiap tahun. Sekolah favorit berebut murid, sementara sekolah lain kekurangan peminat. Yang paling dirugikan adalah anak-anak dari keluarga tidak mampu,” ujar seorang anggota DPRD Samarinda yang enggan disebutkan namanya.
Ketimpangan kualitas pendidikan antar sekolah di Samarinda menjadi faktor utama. Sekolah-sekolah di pusat kota cenderung memiliki fasilitas lebih lengkap dan tenaga pengajar berkualitas, sementara sekolah di pinggiran kota masih kekurangan.
Kondisi ini memicu orang tua untuk berupaya keras memasukkan anak mereka ke sekolah favorit, baik melalui jalur prestasi maupun jalur zonasi yang kerap dimanipulasi. Bagi siswa kurang mampu, keterbatasan akses bimbingan belajar dan biaya pendaftaran menjadi hambatan besar.
DPRD Samarinda mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk segera melakukan pemerataan kualitas pendidikan. Langkah konkret yang diminta antara lain peningkatan fasilitas sekolah di daerah pinggiran dan distribusi guru yang lebih merata.
“Kami akan memanggil Dinas Pendidikan untuk membahas solusi jangka pendek dan panjang. Jangan sampai SPMB hanya menjadi ajang seleksi bagi yang mampu,” tambah anggota DPRD tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Dinas Pendidikan Samarinda terkait usulan tersebut.