KALIMANTAN TIMUR — PACK, emiten yang tengah bertransformasi dari bisnis kemasan digital ke sektor tambang nikel, mencatatkan 196.616 saham baru hasil konversi obligasi wajib yang berlaku efektif hari ini. Dengan tambahan itu, total saham beredar perusahaan mencapai 32,37 miliar lembar.
Pasar langsung merespons positif langkah agresif ini. Harga saham dibuka di Rp282 sebelum meroket ke Rp310—tepat di batas ARA harian. Volume transaksi mencapai 5,79 juta lot dengan nilai Rp172,8 miliar, menandakan minat spekulatif trader jangka pendek masih sangat tinggi.
Transformasi PACK kian jelas setelah pengusaha Kalimantan Selatan, Haji Isam, masuk sebagai pemegang saham. Ia membeli 6,83 miliar saham atau 21,12 persen kepemilikan dengan total nilai Rp936,65 miliar atau Rp137 per saham.
Langkah berikutnya, PACK berencana mengakuisisi 15,62 persen saham PT Karayatama Konawe Utara (KKU) dan 14,62 persen saham PT Konutara Sejati (KS). Total nilai transaksi mencapai USD75,91 juta atau setara Rp1,21 triliun (kurs Rp16.000).
Masuknya PACK ke bisnis nikel membuat saham ini langsung jadi incaran. Komoditas nikel masih menjadi tema besar di pasar modal Indonesia, didorong permintaan kendaraan listrik global dan program hilirisasi pemerintah.
Di balik euforia, struktur pendanaan akuisisi ini patut dicermati. PACK akan menggunakan perpetual loan dari pemegang saham pengendali, PT Eco Energi Persada (EEP), senilai USD93,14 juta dengan bunga 8 persen per tahun. Nilai pinjaman ini setara 48,06 persen dari total ekuitas perusahaan.
Dana tersebut akan dialokasikan USD33,49 juta untuk pembelian saham KS dan USD42,42 juta untuk saham KKU. Sisanya untuk kebutuhan transaksi terkait. Karena EEP adalah pemegang saham pengendali, transaksi ini masuk kategori afiliasi.
Setelah menembus Rp310, pasar kini memantau apakah PACK mampu bertahan di atas level psikologis Rp300. Jika harga stabil dengan volume besar, potensi kenaikan lanjutan masih terbuka. Sebaliknya, tekanan profit taking bisa memicu volatilitas tinggi kembali.
Lonjakan hari ini menunjukkan betapa responsifnya pasar terhadap kombinasi aksi korporasi besar, perubahan bisnis, dan masuknya figur kuat seperti Haji Isam. Namun, investor tetap perlu mewaspadai risiko dari struktur pendanaan utang yang cukup besar.