KALIMANTAN TIMUR — TNT Sports, pemegang hak siar milik Warner Bros Discovery (WBD), memilih membatasi tayangan tiga final Eropa musim ini hanya untuk pelanggan berbayar. Padahal pendahulunya, BT Sport, selalu menyediakan siaran gratis untuk final Liga Champions dan Liga Europa sejak mengakuisisi hak siar pada musim 2015-16. Langkah ini langsung menuai kritik dari UEFA.
Pertama, Aston Villa akan menghadapi Freiburg di final Liga Europa pada Rabu (28/5). Seminggu berselang, Crystal Palace bertemu Rayo Vallecano di final Liga Conference. Puncaknya, Arsenal berduel dengan Paris Saint-Germain di final Liga Champions di Budapest pada Sabtu (7/6). Tiga partai itu hanya bisa disaksikan oleh pelanggan TNT Sports atau pengguna platform streaming HBO Max.
Untuk menonton ketiga final, calon penonton harus berlangganan HBO Max mulai £4,99 (sekitar Rp100 ribu) per bulan. Namun, paket itu belum termasuk akses ke saluran TNT Sports. Jika ingin menikmati siaran langsung pertandingan, pelanggan harus merogoh kocek £31,99 (sekitar Rp640 ribu) per bulan di sebagian besar platform.
Sebelum era BT Sport, hak siar final Liga Champions dipegang penuh oleh ITV sejak kompetisi berganti format pada 1992 hingga 2003. Setelahnya, ITV berbagi hak dengan Sky Sports sampai 2015. Kini akses gratis itu benar-benar hilang.
Sumber internal UEFA menyebut keputusan TNT Sports melanggar klausul "upaya terbaik" dalam kontrak yang mewajibkan pemegang hak siar memastikan final bisa diakses gratis. Sejak mengambil alih kontrak dua tahun lalu, TNT Sports sebelumnya masih menyediakan siaran gratis melalui layanan discovery+. Namun, setelah HBO Max diluncurkan di Inggris pada Maret lalu, opsi itu dihapus.
Kontrak TNT Sports dengan UEFA hanya berlaku hingga musim 2027-28. Tahun lalu, Paramount memenangkan hak siar Liga Champions untuk periode berikutnya, sementara Sky Sports mengamankan hak Liga Europa dan Liga Conference. Ini berarti keputusan kontroversial TNT Sports hanya akan bertahan dua musim ke depan.