Nilai Tukar Rupiah Terperosok ke Level Rp 17.600 per Dollar AS, Waspada Dampak Lonjakan Harga Minyak Dunia

Penulis: Yanuar Fahrezi  •  Jumat, 15 Mei 2026 | 15:50:14 WIB
Nilai tukar rupiah melemah ke Rp 17.603 per dollar AS pada perdagangan pagi di Jakarta.

JAKARTA — Rupiah kembali menunjukkan wajah lesunya di hadapan dollar AS. Berdasarkan pantauan di platform Google Finance pukul 09.03 WIB, mata uang Garuda ini bertengger di level Rp 17.603,20, sebuah angka yang mencemaskan bagi pelaku pasar maupun pelaku usaha di tanah air.

Pergerakan ini merupakan kelanjutan dari tren negatif sejak pembukaan pasar. Rupiah sebenarnya sempat mencoba bertahan di kisaran Rp 17.540 hingga Rp 17.550, namun derasnya sentimen global memaksa nilai tukar melampaui batas Rp 17.600 hanya dalam hitungan jam. Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp 17.529 pada perdagangan terakhir.

Gejolak Timur Tengah dan Beban Minyak Dunia

Di balik angka-angka digital yang terus bergerak naik, ada badai yang sedang terjadi di pasar komoditas global. Harga minyak mentah jenis Brent yang kini bertahan di atas 110 dollar AS per barel menjadi beban berat yang harus dipikul mata uang regional, tidak terkecuali rupiah.

Kondisi geopolitik di Timur Tengah memicu sikap risk off di kalangan investor. Mereka cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang dan mengalihkannya ke aset yang dianggap lebih aman. Hal ini membuat arus modal asing keluar dari Indonesia dan menekan nilai tukar semakin dalam.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong memberikan catatan penting mengenai situasi ini. Ia menyebut kenaikan harga minyak mentah dunia dan sentimen pasar global masih membebani mata uang regional.

“Rupiah dan mata uang regional terpantau melemah cukup besar terhadap dollar AS oleh harga minyak mentah dunia yang kembali naik,” kata Lukman Leong dikutip dari Kompas.com, Selasa (12/5/2026).

Akankah Rupiah Menembus Rp 17.800?

Kekhawatiran kini beralih pada seberapa jauh pelemahan ini akan berlanjut. Reuters melaporkan bahwa rupiah sempat menyentuh rekor terlemah baru akibat lonjakan harga minyak dan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia. Jika tren ini menetap, dampaknya akan merembet ke harga barang di pasar lokal.

Bagi masyarakat luas, angka Rp 17.600 ini bukan sekadar statistik di layar bursa. Ini adalah sinyal bagi kenaikan biaya logistik dan harga barang impor yang mungkin akan segera mampir di etalase toko dan pasar dalam waktu dekat.

Ekonom Josua Pardede mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidaklah mudah. Ia menyoroti pentingnya pemulihan arus modal asing untuk menahan kejatuhan rupiah lebih lanjut.

“Jika Brent bertahan di atas 110 dollar AS per barrel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp 17.800,” ujar Josua Pardede dikutip dari Kompas.com, Selasa (5/5/2026).

Kini, pelaku pasar sedang menanti langkah nyata dari otoritas moneter untuk menstabilkan nilai tukar. Tanpa intervensi dan perbaikan sentimen global, posisi rupiah di level Rp 17.600 ini bisa jadi hanyalah persinggahan sebelum menuju level yang lebih rendah.

Reporter: Yanuar Fahrezi
Sumber: money.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top