Mantan Bos Kaltim Post Zainal Muttaqien Bagi Resep Bangun Media dan Pandangannya soal Masa Depan IKN

Penulis: Valdi Pratama  •  Jumat, 15 Mei 2026 | 13:31:55 WIB
Zainal Muttaqien berbagi pengalaman membangun media di Balikpapan.

BALIKPAPAN — Di sebuah rumah makan sederhana di kawasan Balikpapan Baru, Zainal Muttaqien duduk di antara kopi, gorengan, dan obrolan panjang tentang masa depan pers. Pria yang akrab disapa Bos Zam itu tidak banyak berubah: kemeja batik hijau kebiruan, peci hitam, dan pembawaan tenang yang dulu membesarkan Kaltim Post di era kejayaan media cetak 1990-an hingga 2010-an.

Pertemuan itu berawal dari perbincangan dengan Sugito, mantan direksi Kaltim Post yang kini menjadi pemilik media di Balikpapan. Dari situ, hubungan telepon tersambung. Beberapa jam kemudian, mereka bertemu di Rumah Makan Banjar Sari, tak jauh dari kediaman Bos Zam di kawasan WIKA.

“Saya jalan saja kalau pulang dari sini. Motor saya titip di area masjid,” kata Zainal, masih dengan gaya sederhana yang melekat sejak lama.

Warisan Kultur Jurnalistik yang Menyebar

Bagi wartawan generasi lama di Kaltim, nama Zainal Muttaqien bukan sekadar mantan petinggi media. Ia adalah sosok yang ikut membentuk kultur jurnalistik, pola manajemen media, hingga cara berpikir banyak insan pers di daerah.

Kariernya panjang. Ia pernah memimpin PT Duta Manuntung selaku penerbit Kaltim Post, lalu dipercaya menjadi Direktur Utama PT Jawa Pos Jaringan Media Nusantara (JJMN), bagian dari Jawa Pos Group. Di bawah kepemimpinannya, Kaltim Post berkembang menjadi koran paling berpengaruh di Kaltim—memperluas jaringan biro, mendominasi iklan regional, hingga menjadi rujukan politik dan ekonomi.

Satu hal yang selalu diingat dari gaya kepemimpinannya: keyakinan bahwa perusahaan media besar karena SDM-nya. Wartawan, redaktur, hingga direksi terus didorong untuk berkembang. Yang berprestasi diberi ruang naik karier. Tidak sedikit yang dikirim studi banding ke luar negeri atau didorong menyelesaikan pendidikan sarjana.

Budaya belajar itu melahirkan banyak wartawan dan editor yang kemudian menyebar mendirikan media sendiri di berbagai daerah. Bahkan ada yang kariernya meroket ke dunia politik dan pemerintahan—menjadi wali kota, ketua DPRD, anggota legislatif, hingga pejabat penting di daerah.

Inspirasi untuk Media Baru

Direktur Radar Balikpapan Andrie Aprianto dan HRD Media Kaltim Network, Helmieyani, turut hadir dalam pertemuan itu. Andrie mengaku sebagian konsep pengembangan Media Kaltim Network banyak terinspirasi dari cara Bos Zam membangun media pada masanya.

Cara memandang perusahaan pers bukan sekadar tempat memproduksi berita, tetapi bagaimana media dibangun menjadi ekosistem yang hidup, memiliki jaringan, pengaruh, sekaligus tetap kuat secara bisnis.

Sebelum mendirikan Media Kaltim, Andrie sempat menghubungi beberapa mantan bosnya setelah resign dari Kaltim Post. Salah satunya adalah Bos Zam. Respons Zainal saat itu sangat positif. Ia memberi semangat dan berharap media yang dibangun bisa berkembang dan sukses.

“Bagi saya waktu itu, dukungan seperti itu cukup berarti saat sedang mulai membangun media sendiri dari nol,” kata Andrie.

IKN: Peluang Besar untuk Pemerataan

Malam itu, obrolan juga merembet ke Ibu Kota Nusantara. Menurut Bos Zam, keberadaan IKN sangat bagus untuk masa depan Indonesia dan harus didukung bersama. Ia menilai pemindahan ibu kota yang diwujudkan pada era Presiden Joko Widodo merupakan langkah besar untuk pemerataan pembangunan Indonesia.

Posisi IKN di Kalimantan, menurutnya, akan membuka akses ekonomi dan pembangunan yang selama ini terpusat di Pulau Jawa. Meski begitu, ia mengingatkan agar media tetap menjalankan peran kritisnya—mengawal proses pembangunan tanpa kehilangan marwah pers.

Di sela-sela obrolan, Zainal menyempatkan diri berjalan kaki pulang ke rumahnya. “Motor saya titip di area masjid,” katanya sambil tersenyum. Gaya hidup yang tidak berubah, meski pernah duduk di posisi puncak industri media nasional.

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: radarbontang.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top