SAMARINDA — Tangis dan rindu kembali menghampiri Yuli saat perayaan Kenaikan Isa Al Masih, Kamis (14/5/2025). Alih-alih beribadah bersama keluarga atau menyantap hidangan khas hari raya, buruh borongan di pabrik plywood itu hanya bisa memandangi foto anak lelakinya yang tertempel rapi di dinding kamar kos berukuran 3x4 meter.
“Kalau hari raya pasti sedih. Harusnya ibadah sama keluarga, makan bersama, tapi saya cuma sendiri di kamar kos,” ujar Yuli kepada Kaltimkita.com.
Kamar yang ia sewa Rp450 ribu per bulan itu jauh dari layak. Dinding kayu mulai kusam, atap seng terasa panas saat siang, serta kamar mandi yang harus dipakai bersama penghuni lain. Tak ada televisi atau barang elektronik mahal. Hanya ada kasur busa, lemari kecil, kompor mungil, dan sebuah speaker hitam yang kerap memutar lagu rohani.
Sudah hampir empat tahun Yuli meninggalkan kampung halamannya di Toraja, Sulawesi Selatan. Setelah berpisah dengan suami, ia harus menjadi pencari nafkah utama. Setiap hari, ia bangun sebelum matahari terbit untuk mengejar kendaraan jemputan menuju pabrik plywood di Samarinda.
“Kerjaannya berat berdiri terus. Saya repair, kadang terkena cutter, ikut target produksi juga. Tapi saya jalani saja,” katanya.
Sebagai pekerja borongan, penghasilan Yuli tidak menentu. Jika bahan baku sedang banyak, ia bisa sedikit bernapas lega. Namun saat produksi menurun, pendapatannya ikut menyusut. Meski begitu, ia tetap menyisihkan sebagian besar uangnya untuk dikirim ke Toraja.
Yuli sebenarnya ingin mudik untuk bertemu anak lelakinya yang kini tinggal bersama nenek. Namun ongkos perjalanan yang besar dan kekhawatiran kehilangan pekerjaan membuat keinginan itu harus dipendam.
“Kalau tidak kerja, saya tidak dapat uang. Sedangkan kebutuhan anak jalan terus,” ujarnya.
Di sela kesibukan, ia hanya bisa melepas rindu melalui panggilan video singkat. Namun jaringan internet di kampungnya kerap menjadi kendala. Anak lelakinya sering bertanya kapan ibunya pulang.
“Dia sering bilang, ‘Mama kapan pulang?’ Kadang saya tidak bisa jawab apa-apa,” katanya lirih.
Di balik keterbatasan, Yuli tetap menyimpan mimpi besar. “Saya cuma mau anak saya sekolah tinggi dan hidupnya lebih baik dari saya,” pungkasnya.