BALIKPAPAN — Kabar duka menyelimuti pemberangkatan jemaah haji Embarkasi Balikpapan. Indarjaya Purwadi, jemaah asal Kota Samarinda yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 1 Balikpapan (BPN 1), dilaporkan wafat di Madinah, Arab Saudi, setelah menjalani perawatan akibat penyakit hipertensi yang dideritanya.
Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Balikpapan, Mokhlis Hasan, menyampaikan bahwa almarhum sempat mendapatkan penanganan medis setibanya di Tanah Suci.
“Yang bersangkutan memiliki riwayat hipertensi dan sempat mendapatkan perawatan di sana sebelum meninggal dunia,” kata Mokhlis, Selasa (12/5/2026).
Sebelum kondisi kesehatannya menurun, Indarjaya masih terlihat bugar. Ia bahkan sempat mengikuti kegiatan city tour atau ziarah di Kota Madinah yang difasilitasi bagi para jemaah.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, beliau sempat mengikuti kegiatan ziarah di Madinah bersama rombongan,” ujar Mokhlis.
Kepergian Indarjaya menjadi pukulan berat bagi keluarga maupun rombongan jemaah asal Kalimantan Timur. Pihak penyelenggara memastikan seluruh proses penanganan telah dilakukan sesuai prosedur yang berlaku di Arab Saudi.
Sesuai regulasi penyelenggaraan ibadah haji, jemaah yang wafat di Tanah Suci akan dimakamkan di Arab Saudi dan tidak dipulangkan ke Indonesia. Almarhum telah dimakamkan di Madinah dengan pendampingan petugas haji setempat. Pihak keluarga di Indonesia juga telah menerima informasi resmi terkait wafatnya almarhum.
Selain kabar duka tersebut, PPIH Embarkasi Balikpapan mengungkapkan masih ada satu jemaah dari Kloter 2 asal Balikpapan yang tertahan di Madinah. Jemaah tersebut harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit dan belum dapat melanjutkan perjalanan menuju Makkah bersama rombongannya.
“Sampai saat ini kami masih mengonfirmasi terkait penyakit yang diderita, termasuk data lengkap jemaah tersebut. Yang bersangkutan masih menjalani perawatan,” jelas Mokhlis.
PPIH Embarkasi Balikpapan terus memantau kondisi seluruh jemaah haji asal Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara selama berada di Tanah Suci. Para jemaah, khususnya kategori lanjut usia dan risiko tinggi, diimbau menjaga kondisi fisik serta tidak memaksakan diri dalam menjalankan aktivitas ibadah.
Ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati dan ketulusan. Di tengah jutaan langkah manusia menuju Baitullah, setiap jemaah membawa harapan, doa, dan cinta yang sama kepada Sang Pencipta.
Kepergian almarhum di Tanah Suci menjadi pengingat bahwa kematian dapat datang kapan saja, di tempat yang mulia, saat seseorang tengah memenuhi panggilan ibadah.***