Santri Samarinda Jual Sayur Hidroponik di Kaltim Halal Festival 2026

Penulis: Wendra Kusuma  •  Sabtu, 09 Mei 2026 | 13:29:19 WIB
Santri Ponpes Istiqamah Muhammadiyah Samarinda memamerkan sayur hidroponik di Kaltim Halal Festival 2026.

SAMARINDA — Stand milik Pondok Pesantren (Ponpes) Istiqamah Muhammadiyah Samarinda dipenuhi berbagai jenis sayuran segar selama gelaran Kaltim Halal Festival 2026. Para santri aktif menawarkan hasil panen mereka, mulai dari pakcoy hingga selada, kepada para pengunjung yang memadati halaman Islamic Center Samarinda.

Kegiatan yang berlangsung pada 8-10 Mei 2026 ini menjadi panggung bagi pesantren untuk membuktikan bahwa pendidikan agama bisa berjalan beriringan dengan kemandirian pangan. Selain memamerkan teknik tanam, para santri juga menjual pakcoy segar dengan harga terjangkau, yakni Rp10 ribu per ikat.

Pembina sekolah Al Adhim menjelaskan bahwa keterlibatan santri dalam budidaya ini merupakan bagian dari kurikulum keterampilan hidup. Pesantren ingin mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat.

Mengapa Memilih Metode Budidaya Hidroponik?

Keputusan menggunakan metode hidroponik di lingkungan pesantren didasari oleh aspek praktis dan efisiensi lahan. Al Adhim menyebutkan bahwa sistem ini jauh lebih mudah dikontrol oleh para santri di sela-sela kesibukan belajar mereka.

“Pakcoy ini masa panennya cepat dan pengontrolannya juga lebih mudah dibanding tanaman lainnya,” ujar Al Adhim pada Jumat (8/5/2026) di Samarinda.

Kecepatan masa panen menjadi faktor krusial agar santri bisa melihat hasil nyata dari kerja keras mereka dalam waktu singkat. Selama festival berlangsung, para santri memberikan edukasi langsung kepada pengunjung mengenai proses penyemaian hingga teknik perawatan nutrisi air pada tanaman.

Diversifikasi Usaha: Dari Sayur hingga Peternakan Domba

Langkah Ponpes Istiqamah Muhammadiyah tidak berhenti pada sayuran hijau saja. Pesantren ini tengah mengembangkan ekosistem ketahanan pangan yang lebih luas dengan menyentuh sektor peternakan dan perikanan secara mandiri.

“Dari peternakan domba sampai sayur-sayuran semuanya kami kelola sendiri bersama santri,” jelas Al Adhim menambahkan.

Seluruh unit usaha ini dikelola secara swadaya sebagai laboratorium praktik bagi santri SMA dan pondok pesantren. Melalui keikutsertaan dalam festival ini, pihak pesantren berharap persepsi masyarakat terhadap lembaga pendidikan agama semakin berkembang ke arah yang lebih modern.

Program pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren ini juga memperkuat posisinya melalui dukungan eksternal. Al Adhim mengungkapkan bahwa saat ini program ketahanan pangan yang mereka jalankan telah mendapat dukungan kerja sama dari Bank Indonesia.

Reporter: Wendra Kusuma
Sumber: editorialkaltim.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top