Siswa SMK Samarinda Meninggal akibat Sepatu Sempit Saat Magang

Penulis: Wendra Kusuma  •  Kamis, 07 Mei 2026 | 11:36:01 WIB
Siswa SMK Samarinda meninggal dunia akibat infeksi kaki yang dipicu penggunaan sepatu sempit saat magang.

SAMARINDA — Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur baru mendapat gambaran lengkap kronologi kesehatan Mandala saat mengunjungi rumah duka di Jalan Tarmidi, Kecamatan Samarinda Kota. Sang ibu, Ratnasari, menceritakan bagaimana putranya berusaha menyiasati nyeri kaki dengan menyumpal bagian dalam sepatu menggunakan busa pembungkus buah agar mampu berdiri tegak saat bekerja pramuniaga.

"Kondisinya drop drastis setelah berdiri seharian saat magang. Selain kaki sakit, dia mengeluh badannya sakit semua sebelum akhirnya meninggal dunia di tempat tidur," ujar Ratnasari, Rabu (6/5/2026).

Infeksi Bertahap, Absen Sekolah hingga Meninggal

Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zaitun, mengonfirmasi bahwa kondisi fisik Mandala pada fase akhir sangat memprihatinkan. Berdasarkan dokumentasi foto dari keluarga, ditemukan luka infeksi serius pada bagian kaki — jempol dan kakinya bengkak, jari-jarinya sampai tertekuk. Gejala itu mulai muncul saat dia menjalani magang selama satu bulan penuh di bulan Ramadan.

Setelah masa magang tersebut, kesehatan Mandala terus menurun hingga ia sering absen sekolah karena tidak mampu lagi berjalan jauh. Penurunan kondisi yang cepat ini meninggalkan waktu sempit bagi pihak keluarga atau sekolah untuk mengidentifikasi dan merespons krisis kesehatan yang sedang dialami siswa itu.

Program Gratispol Hanya Jangkau Kelas 1, Mandala Terlewat

Salah satu celah sistem yang terungkap adalah program bantuan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bernama Gratispol (gratis polis/seragam). Program ini saat ini diprioritaskan hanya untuk siswa kelas 1 SMK, sementara Mandala yang duduk di kelas 2 tidak terjangkau bantuan tersebut. Keterbatasan anggaran atau penetapan prioritas ini berarti siswa yang terus mengalami kesulitan ekonomi di tahun ajaran berikutnya justru kehilangan akses pertolongan.

Pihak keluarga sebelumnya pernah menerima bantuan sembako dan pinjaman uang dari wali kelas saat Mandala masih kelas 1 untuk membayar kontrakan. Namun, tingkat bantuan tersebut belum mampu menyelesaikan masalah fasilitas sekolah Mandala hingga akhir hayatnya.

Sekolah Diminta Lebih Proaktif Mendata Siswa Miskin

Rina Zaitun menyoroti perlunya kepekaan lebih dari pihak sekolah dalam mengidentifikasi siswa dari keluarga tidak mampu. Ia berharap pihak sekolah tidak hanya mengandalkan pelaporan dari siswa sendiri atau orang tua, tetapi secara aktif melakukan pendataan berdasarkan observasi kondisi nyata di lapangan — mulai dari kelengkapan seragam, kondisi sepatu, hingga pola kehadiran.

"Jangan sampai ada lagi siswa yang harus meregang nyawa hanya karena tidak mampu membeli sepatu atau seragam yang sudah tidak layak," ujar Rina. Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan anak tidak hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga institusi pendidikan yang setiap hari berinteraksi langsung dengan siswa.

Reporter: Wendra Kusuma
Sumber: topikalimantan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top