SAMARINDA — DPPKB Kota Samarinda memastikan tempat pengasuhan anak (TPA) tidak sekadar menjadi lokasi penitipan saat orang tua bekerja. Lembaga itu kini mendorong seluruh pengelola TPA di ibu kota Kalimantan Timur untuk menerapkan standar pengasuhan yang mampu memantau tumbuh kembang anak secara utuh.
Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kota Samarinda, Ira Puspa Rachmawati, menegaskan aspek pengasuhan holistik menjadi kunci agar anak tidak kehilangan metode pengasuhan yang seharusnya mereka dapatkan dari keluarga. Hal ini disampaikannya di sela penutupan kegiatan Penguatan Kapasitas Pengelolaan Tempat Pengasuhan Anak dan Bina Keluarga Balita Kota Samarinda, pekan lalu.
Mayoritas Waktu Anak Berada di TPA
Ira menjelaskan, keseharian anak-anak dari orang tua pekerja sebagian besar dihabiskan di TPA sejak diantar pagi hingga dijemput sore hari. Karena itu, peran pengasuh di TPA sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak.
“Harapannya agar anak walaupun dititipkan itu tetap dapat pengasuhan yang utuh, yang holistik. Jadi dia tidak kehilangan metode-metode pengasuhan yang seharusnya didapatkan,” ujarnya.
“Orang tua kan tahunya mengantar pagi, sore menjemput. Nah, jadi pengasuhan itu sebagian besar waktunya ada di TPA tersebut,” sambung Ira.
TPA Mata Hati Jadi Percontohan Nasional
Dari 16 TPA yang tersebar di Samarinda, sejumlah lembaga telah menunjukkan praktik baik dalam pengelolaan. TPA Mata Hati di kawasan Wijayakusuma berhasil meraih prestasi hingga tingkat nasional dan kini menjadi percontohan bagi TPA lain di Indonesia.
DPPKB Samarinda juga tengah mengusulkan TPA Kebun Kita untuk mengikuti proses standardisasi melalui akreditasi. Langkah ini diharapkan mendorong TPA lain di Kota Tepian untuk meniru tata kelola yang telah terbukti berhasil tersebut.
Pelatihan Pengelola dan Kader BKB
Kegiatan penguatan kapasitas yang berlangsung selama dua hari, yakni Jumat dan Senin pekan lalu, melibatkan pengelola TPA serta kader Bina Keluarga Balita (BKB). Ini merupakan bagian dari implementasi program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya).
Dalam pelatihan tersebut, para pengelola TPA dibekali pemahaman tentang metode pengasuhan anak, teknik pemantauan tumbuh kembang, hingga alur rujukan apabila ditemukan permasalahan pada anak.
“Jadi kami melatih para pengelolanya agar dapat memantau tumbuh kembangnya. Jadi anak itu tidak kehilangan perhatian dan pengasuhan,” terang Ira.
Enam Kelompok BKB Jadi Pilot Project
Selain pengelola TPA, penguatan kapasitas juga menyasar kader BKB. Dari total 116 kelompok BKB yang ada di Samarinda, enam kelompok dilibatkan sebagai pilot project dalam kegiatan ini.
Para kader ini nantinya ditugaskan menyebarluaskan informasi tentang pengasuhan dan pemantauan tumbuh kembang kepada keluarga yang memiliki balita di wilayah masing-masing.
Tekan Stunting dan Jaga Perkembangan Psikososial
Ira menambahkan, penguatan pengasuhan anak tidak hanya diarahkan untuk menekan angka stunting. Perkembangan psikososial anak juga menjadi perhatian utama agar tidak terganggu selama proses pengasuhan di TPA maupun di rumah.
Dengan TPA yang terstandarisasi dan didukung pengasuh kompeten, orang tua diharapkan merasa aman menitipkan anaknya. “Kalau kita sudah memastikan TPA-nya terstandarisasi, TPA-nya memiliki pengasuh yang sudah kompeten, otomatis keluarga menitipkan anaknya ke situ, orang tua juga lebih nyaman bekerja,” pungkasnya.