SAMARINDA — Provinsi Kalimantan Timur masih menghadapi pekerjaan rumah besar dalam memberantas tuberkulosis. Dari total 1.038 desa dan kelurahan yang tersebar di wilayah Kaltim, baru 74 unit yang terbentuk sebagai Desa Siaga Tuberkulosis (TBC).
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyebutkan, gerakan ini dirancang untuk mengajak partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat dari tingkat bawah dalam memberikan edukasi. Pelacakan penderita juga diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis agar skrining penularan bisa dilakukan sedini mungkin.
Cakupan Penemuan Kasus Baru Masih 56 Persen
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin membeberkan, cakupan penemuan kasus baru di wilayahnya baru menyentuh angka sekitar 56 persen. Padahal, target estimasi pemeriksaan mencapai 21.000 kasus.
Rendahnya angka tersebut dipicu oleh minimnya inisiasi pengobatan pertama bagi pasien yang terdeteksi, yang baru mencapai 85 persen. Selain itu, kesadaran pemberian obat pencegahan bagi orang yang berkontak erat dengan pasien juga masih rendah, sehingga rantai penularan di lingkungan keluarga sulit diputus.
Kolaborasi Lintas Sektor hingga Perbaikan Rumah Pasien
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, pemprov menerapkan sistem kolaborasi yang melibatkan banyak pihak. "Kami menerapkan sistem kolaborasi secara keroyokan dengan melibatkan kader posyandu, perangkat desa, hingga jajaran lembaga sosial," ujar Jaya.
Program ini merupakan kerja sama lintas sektor yang melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa, TP PKK, Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes), dan Kementerian Kesehatan.
Kemitraan ini juga melibatkan Badan Amil Zakat Nasional, Dinas Sosial, serta Dinas Pekerjaan Umum. Dinas terkait membantu perbaikan rumah pasien yang membutuhkan.
Pengobatan TBC Butuh Disiplin Hingga Satu Tahun
Proses pengobatan penyakit pernapasan ini memerlukan kedisiplinan tinggi karena memakan waktu minimal enam bulan. Jika pasien mengalami resistensi, masa pengobatan bisa berlanjut hingga satu tahun.
Data terkini menempatkan Indonesia di peringkat kedua dengan jumlah kasus tuberkulosis tertinggi di dunia setelah India. Sementara itu, Kalimantan Timur berada di peringkat ke-16 secara nasional untuk tingkat prevalensi penyebaran penyakit infeksi bakteri tersebut.
Pemprov menargetkan penambahan jumlah Desa Siaga TBC secara progresif sebelum akhir 2026. "Dengan sinergi kuat lintas sektor ini, kami optimistis target besar eliminasi penyakit tuberkulosis di Kaltim dapat terwujud sepenuhnya pada 2030," ungkap Jaya.