Pencarian

260 Pelari dari Bontang hingga Kutai Timur Jajal Jalur Ekstrem Berbatu di Loa Raya pada Pelandok IDI Kukar Mixed Trail 2

Minggu, 19 Juli 2026 • 15:54:01 WIB
260 Pelari dari Bontang hingga Kutai Timur Jajal Jalur Ekstrem Berbatu di Loa Raya pada Pelandok IDI Kukar Mixed Trail 2
pelari dari Bontang hingga Kutai Timur mengikuti Pelandok IDI Kukar Mixed Trail 2 di Desa Loa Raya, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara.

TENGGARONG — Lintasan lari trail di Desa Loa Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), akhir pekan lalu menjadi arena bagi para pelari dari berbagai daerah di Kalimantan Timur. Sebanyak 260 orang dari Bontang, Balikpapan, Samarinda, hingga Kutai Timur turun dalam ajang Pelandok IDI Kukar Mixed Trail 2.

Perlombaan yang dimulai pukul 06.00 Wita itu hanya mempertandingkan satu jarak, yakni 10 kilometer, dengan batas waktu tempuh alias cut off time (COT) selama tiga jam. Para peserta dibagi dalam tiga kategori: pelajar usia 12-16 tahun, umum usia 17 tahun ke atas, dan master usia 45 tahun ke atas.

Medan Berbatu yang Belum Pernah Dilewati

Ketua Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Kukar, Firnadi Ikhsan, mengatakan rute tahun ini sengaja dibuat berbeda dari event sebelumnya. “Ada tanjakan dan turunan serta medan berbatu yang belum pernah dilewati pada rute-rute di event sebelumnya,” ujarnya kepada Poskotakaltimnews.

Medan ekstrem itu justru menarik minat pelari dari luar Tenggarong. Firnadi menyebut partisipasi tidak hanya dari Kukar, melainkan juga dari Kota Bangun dan Sebulu. Bahkan, komunikasi sudah mulai terjalin agar kegiatan serupa bisa digelar di daerah-daerah tersebut ke depannya.

Kolaborasi dengan IDI Kukar dan Rumah Aspirasi

Penyelenggaraan Pelandok IDI Kukar Mixed Trail 2 merupakan hasil kolaborasi antara Rumah Aspirasi, Pelandok, dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kukar. Firnadi, yang juga anggota DPRD Provinsi Kaltim, menyebut keterlibatan IDI membuat kegiatan tidak hanya berfokus pada perlombaan.

Penyuluhan kesehatan diberikan kepada peserta dan warga sekitar. Seluruh peserta juga dibekali perlindungan asuransi BPJS Kesehatan untuk mengantisipasi risiko cedera selama berlari di lintasan berat.

Setelah perlombaan, warga Desa Loa Raya diajak mengikuti zumba bersama. Penampilan DJ turut menghibur peserta dan masyarakat yang hadir.

Menuju Olahraga Prestasi di Bawah KONI

Firnadi menilai perkembangan lari trail di Kukar kian menunjukkan potensi. Sejumlah kegiatan sebelumnya menjadi bagian dari upaya memperkenalkan olahraga lintas alam kepada masyarakat, sebelum diarahkan ke jalur prestasi.

“Belakangan ini kami mencoba mengarahkannya menjadi olahraga prestasi, dengan rute dan kategori yang memang umum diperlombakan,” jelasnya. Ia menambahkan, trail kini telah masuk dalam cabang olahraga di bawah KONI dan diperlombakan di PON serta event nasional lainnya.

Di luar aspek kompetisi, Firnadi melihat lari lintas alam perlahan menjadi gaya hidup masyarakat Kukar, khususnya di Tenggarong.

Nyaniran, 67 Tahun, Dua Kali Jatuh tapi Tak Kapok

Semangat itu tercermin dari Nyaniran, warga Tenggarong Seberang yang berusia 67 tahun. Ia ikut menghadapi medan 10 kilometer bersama ratusan peserta lain. Langkahnya sempat terhenti dua kali karena terjatuh, terutama di kawasan sekitar kolam yang dirasakannya paling berat.

Meski begitu, Nyaniran mengaku selalu mengikuti kegiatan lari serupa setiap ada kesempatan, bahkan pernah berlomba hingga ke Bontang. “Yang penting pikiran tenang, sehat-sehat, jangan terpaksa,” katanya.

Dari pengalamannya tetap aktif di usia 67 tahun, ia berharap masyarakat tidak menjadikan umur sebagai alasan untuk berhenti bergerak. “Jangan sampai karena umur sudah 50 tahun ke atas lalu berhenti. Marilah kita berolahraga untuk kesehatan badan,” ujarnya.

Bagikan
Sumber: poskotakaltimnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks