Pencarian

Bos Xprize dan Oracle Ramai-Ramai Dukung Pengawasan Massal, Privasi Dipertanyakan

Sabtu, 27 Juni 2026 • 13:21:01 WIB
Bos Xprize dan Oracle Ramai-Ramai Dukung Pengawasan Massal, Privasi Dipertanyakan
Peter Diamandis mendukung pengawasan global sebagai cara meningkatkan perilaku manusia.

KALIMANTAN TIMUR — Pendiri Xprize Foundation, Peter Diamandis, baru-baru ini menyuarakan dukungannya terhadap gagasan pengawasan global. Dalam sebuah unggahan di platform X dan tulisan panjang di Substack-nya, Diamandis menyatakan keyakinannya bahwa teknologi pengawasan akan membuat manusia lebih baik. "Manusia berperilaku lebih baik ketika mereka diawasi," tulisnya.

Visi 'Transparansi Radikal' yang Kontroversial

Diamandis melukiskan masa depan di mana "transparansi radikal" menjadi norma. Ia membayangkan sebuah "Ekosistem Sensor" yang mencakup kamera rumah, ponsel, mobil otonom, robot, drone, hingga konstelasi satelit yang memotret setiap meter persegi Bumi setiap hari. "Masa depan di mana tidak ada yang bisa bersembunyi," klaimnya.

Pernyataan ini bukan yang pertama. Dua tahun sebelumnya, pendiri Oracle, Larry Ellison, juga melontarkan pandangan serupa. "Warga negara akan berperilaku terbaik mereka, karena kita terus-menerus merekam dan melaporkan segala sesuatu yang terjadi," ujar Ellison dalam sebuah acara Oracle pada 2024.

Dorongan dari Bos Planet Labs

Gagasan Diamandis tampaknya dipicu oleh wawancara dengan Will Marshall, CEO Planet Labs, operator satelit observasi Bumi terbesar. "Tidak ada yang bisa bersembunyi lagi," kata Marshall kepada Diamandis. "Jika Anda membangun sekolah, kami akan melihatnya. Akuntabilitas akan ada untuk dilihat seluruh dunia."

Teknologi Pengawasan yang Semakin Merasuk

Argumen para eksekutif teknologi ini bukannya tanpa dasar. Teknologi pengawasan memang sudah ada di mana-mana. Kamera keamanan rumah seperti Ring, mobil penuh kamera seperti Tesla, dan pembaca plat nomor otomatis dari Flock membuat orang sulit melewati hari tanpa terekam. Belum lagi pengawasan melalui ponsel oleh jaringan iklan dan pedagang data.

Privasi di Mata Para Bos Teknologi

Namun, pernyataan Diamandis dianggap paling blak-blakan dalam upaya menghapus privasi. Ia menasihati para orang tua bahwa anak-anak mereka akan tumbuh di dunia tanpa "off the record". Solusinya? "Ajari mereka bahwa strategi privasi terbaik adalah integritas, hiduplah sehingga diawasi tidak merugikanmu," tulisnya. Ia juga menyerukan agar pengawasan berjalan dua arah.

Diamandis menganggap masa depan tanpa privasi ini sebagai keniscayaan. Namun, respons publik justru menunjukkan perlawanan. Beberapa kota di AS menutup kamera Flock dengan kantong sampah setelah data perusahaan diakses oleh ICE dan FBI. Perlawanan publik pada fitur "Search Party" milik Ring—yang sebenarnya untuk mencari hewan peliharaan hilang—bahkan membuat perusahaan itu membatalkan kemitraannya dengan Flock.

Pertanyaan yang Tak Terjawab

Meta pun menghadapi keluhan atas kacamata kameranya (Ray-Ban Stories) dan gugatan hukum terkait privasi. Diamandis sendiri mengakui ia masih "mengunyah" pertanyaan apakah orang akan berbuat baik karena kesadaran atau karena takut diawasi.

Yang luput dari analisis Diamandis adalah definisi "baik" dan "jujur" yang seringkali subjektif, terutama jika ditentukan oleh perusahaan teknologi yang mengendalikan infrastruktur pengawasan. Diamandis sempat berargumen bahwa transparansi adalah alat yang netral. Namun, ia tidak menjawab pertanyaan: siapa yang memutuskan perilaku mana yang "baik" saat terekam kamera keamanan?

Ia hanya mengatakan transparansi membangun kepercayaan jika berjalan dua arah. Keseimbangan itu tampak sulit diwujudkan ketika teknologi untuk menciptakan "transparansi" dikuasai oleh segelintir perusahaan.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks