KALIMANTAN TIMUR — Lima film bertema perlawanan terhadap pemerintahan otoriter menawarkan sudut pandang berbeda soal keberanian menghadapi rezim represif. Mulai dari distopia fiksi V for Vendetta (2005) hingga drama sejarah Sophie Scholl: The Final Days (2005), semuanya menempatkan individu biasa di pusat konflik. Deretan judul ini cocok bagi penonton yang ingin tontonan politik tanpa kehilangan ketegangan cerita.
Sensor, pengawasan, hingga pembatasan kebebasan berpendapat jadi bahan bakar utama deretan film bertema perlawanan terhadap pemerintahan otoriter. Layar lebar sudah lama jadi ruang bagi kisah semacam ini, dari distopia fiksi sampai rekonstruksi peristiwa sejarah yang nyata terjadi.
Yang menarik, perlawanan dalam film-film ini jarang berbentuk pertempuran besar. Sering kali justru lahir dari tindakan kecil: menyebarkan selebaran, menulis artikel rahasia, atau menolak menjalankan perintah yang tidak adil.
Disutradarai James McTeigue dengan naskah dari The Wachowskis, film ini diadaptasi dari novel grafis karya Alan Moore dan David Lloyd. Hugo Weaving mengisi suara dan gerak tokoh bertopeng Guy Fawkes bernama V, beradu akting dengan Natalie Portman sebagai Evey Hammond, Stephen Rea sebagai Inspektur Finch, John Hurt sebagai Kanselir Adam Sutler, dan Stephen Fry sebagai Gordon Deitrich.
Kisahnya bermula saat Evey, pegawai stasiun televisi milik negara BTN, dihadang Fingermen karena melanggar jam malam. V menyelamatkannya, lalu meledakkan gedung pengadilan Old Bailey dan mengajak rakyat berkumpul di depan Gedung Parlemen pada 5 November tahun berikutnya.
Penyelidikan Finch membawanya ke fasilitas penahanan Larkhill, tempat para tahanan dijadikan objek eksperimen manusia. V adalah satu-satunya yang selamat dari eksperimen itu. Finch juga menemukan bahwa wabah penyakit yang dulu meneror masyarakat ternyata direkayasa elite Norsefire demi merebut dan mempertahankan kekuasaan.
Florian Henckel von Donnersmarck menyutradarai drama ini, diperkuat Ulrich Mühe sebagai Gerd Wiesler, Martina Gedeck sebagai Christa-Maria Sieland, Sebastian Koch sebagai Georg Dreyman, dan Ulrich Tukur sebagai Anton Grubitz.
Kapten Wiesler, agen Stasi yang dingin dan patuh, ditugasi menyadap penulis drama Georg Dreyman beserta kekasihnya, aktris Christa-Maria Sieland. Dreyman sebenarnya dianggap seniman loyal negara. Penyadapan itu ternyata dilatarbelakangi kepentingan pribadi Menteri Hempf yang menginginkan Christa-Maria.
Percakapan soal cinta, musik, dan kebebasan berpikir yang didengar Wiesler perlahan menggoyahkan keyakinannya. Titik baliknya datang setelah Albert Jerska, sahabat Dreyman sekaligus sutradara teater yang dilarang bekerja, mengakhiri hidupnya karena tekanan rezim. Dreyman lalu menulis artikel rahasia soal tingginya angka bunuh diri di Jerman Timur, isu yang disembunyikan pemerintah, dan mengirimkannya ke majalah Jerman Barat Der Spiegel lewat mesin ketik selundupan. Wiesler tahu, tetapi memilih bungkam.
Marc Rothemund menggarap film ini dengan Julia Jentsch sebagai Sophie Scholl, Fabian Hinrichs sebagai Hans Scholl, Alexander Held sebagai Robert Mohr, dan André Hennicke sebagai Hakim Roland Freisler.
Sophie, mahasiswi berusia 21 tahun, bersama kakaknya Hans dan sejumlah mahasiswa lain tergabung dalam kelompok Mawar Putih. Mereka diam-diam menyebarkan selebaran yang mengecam pemerintahan Nazi dan perang Jerman.
Pada 18 Februari 1943, Sophie dan Hans menyebarkan selebaran di lingkungan Universitas Munich. Seorang petugas kampus melihat aksi itu dan melaporkannya ke pihak berwenang. Keduanya ditangkap Gestapo, polisi rahasia Nazi.
Ketiga judul di atas mewakili pola yang sama: kekuasaan represif tumbuh lewat rasa takut, dan perlawanan muncul dari orang-orang yang memilih tidak diam. V for Vendetta membungkusnya dalam distopia, The Lives of Others lewat drama penyadapan, sementara Sophie Scholl berdiri di atas peristiwa nyata.
Bagi penonton Indonesia, film-film semacam ini sering jadi bahan diskusi soal demokrasi, kebebasan pers, dan hak berpendapat. Bukan sebagai ceramah politik, melainkan sebagai cermin bahwa sejarah kelam pernah terjadi di berbagai belahan dunia.
Ketiganya sudah lama dirilis, tetapi belum kehilangan relevansi. V for Vendetta dan The Lives of Others mudah ditemukan di platform streaming digital, sementara Sophie Scholl: The Final Days rutin masuk daftar tontonan wajib pecinta drama sejarah Eropa.