Pasokan Batu Bara Industri Semen Tersendat, Minerba Cari Sumber Baru

Penulis: Valdi Pratama  •  Kamis, 24 September 2026 | 08:35:31 WIB
Sungai surut menghambat distribusi batu bara ke pabrik semen di sejumlah wilayah.

KALIMANTAN TIMUR — Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM tengah mengalihkan pasokan batu bara untuk industri semen setelah gangguan pengiriman melanda sejumlah wilayah. Sungai yang surut menjadi penyebab utama tersendatnya distribusi, sementara sejumlah perusahaan tambang yang ditugaskan belum merealisasikan pasokan sesuai permintaan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengungkapkan pihaknya menerima laporan soal berkurangnya pasokan batu bara ke pabrik semen. Kondisi sungai yang mengalami pendangkalan membuat tongkang pengangkut batu bara tidak bisa melintas dengan kapasitas penuh.

"Kalau yang semen, ada beberapa yang memang laporan terkait pasokan yang kurang. Beberapa sungai surut itu," kata Tri usai menghadiri Enlit Asia 2026 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Selasa (22/9/2026).

Ditjen Minerba berupaya mencari sumber pasokan dari wilayah lain agar kebutuhan bahan bakar pabrik semen tetap terpenuhi. Tri menyebut persoalan ini diharapkan rampung dalam waktu dekat.

"Kami di Minerba berupaya untuk mengalihkan atau mencari dari tempat lain. Mudah-mudahan solved minggu ini atau minggu depan sudah clear," ujarnya.

Penugasan Tambang Belum Sepenuhnya Dipenuhi

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk sebelumnya menyampaikan keluhan serupa. Direktur Human Capital Semen Indonesia, Hadi Setiadi, mengatakan Ditjen Minerba telah menugaskan sejumlah perusahaan tambang untuk memasok kebutuhan batu bara perseroan.

Namun, tidak semua pemegang penugasan merealisasikan pasokan sesuai permintaan. Hal ini membuat Semen Indonesia harus terus mengejar sisa alokasi yang belum terpenuhi.

"Pak Asep (Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara) dan Pak Dirjen (Minerba) sudah membantu banyak memberikan penugasan beberapa miner untuk Semen Indonesia. Tapi, dari beberapa miner yang ditugaskan ini tidak semua memberikan sesuai dengan yang diminta oleh Pak Asep," kata Hadi dalam ASPEBINDO Talkshow bertema Tantangan dan Peluang Pasokan Batubara DMO untuk Industri Semen Nasional di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Menurut Hadi, alokasi yang diberikan belum tentu bisa langsung dikontrak maupun dikirim. Perseroan pun harus terus berkoordinasi dengan Ditjen Minerba agar pasokan tidak terputus.

"Kami jadi harus kejar terus dan minta bantuan ke Minerba terus karena belum tentu yang dialokasikan itu dapat dikontrak dan dapat dikirim," ujarnya.

Logistik Jadi Hambatan Setelah Kontrak Diteken

Persoalan tidak berhenti di tahap kontrak. Hadi menuturkan pengiriman batu bara juga menghadapi kendala logistik, terutama akibat sungai kering di Kalimantan Timur.

"Kalaupun sudah dikontrak, pengiriman juga jadi kendala seperti sungai yang kering di Kalimantan Timur," imbuh Hadi.

Kondisi ini membuat rantai pasok batu bara ke pabrik semen berlapis gangguan: mulai dari kesediaan pemasok, kesepakatan harga, hingga transportasi menuju lokasi industri.

Harga DMO Disebut Sudah Sesuai

Di sisi lain, Tri memastikan persoalan pemasok yang sebelumnya disebut enggan menerima harga DMO telah dibahas bersama. Ia menyebut persoalan tersebut sudah diselesaikan melalui rapat dengan pihak terkait.

"Sudah clear, kemarin sudah rapat dengan kami. Sudah sesuai," tegasnya.

Kebijakan Kementerian ESDM menetapkan harga DMO batu bara untuk sektor industri kelistrikan sebesar USD70 per ton. Sementara untuk industri semen dan pupuk, harganya mencapai USD90 per ton.

Bagi industri semen, kelancaran pasokan batu bara menentukan biaya produksi. Batu bara dipakai sebagai bahan bakar utama tungku pembakaran klinker. Jika pasokan tersendat, pabrik berisiko menurunkan tingkat utilisasi atau menanggung biaya pembelian di harga pasar yang lebih tinggi.

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top