Holding Ultra Mikro BRI Bantu Perajin Sulam Kasab Aceh Bertahan Sejak 1990

Penulis: Uki Damayanti  •  Senin, 21 September 2026 | 08:40:01 WIB
Perajin sulam kasab asal Kuala Baru, Aceh, Asra (63), menyelesaikan produk kerajinan tangannya.

KALIMANTAN TIMUR — Perajin sulam kasab asal Kuala Baru, Aceh, Asra (63), tetap menekuni kerajinan tangan khas daerahnya sejak 1990 meski permintaan pasar berubah. Sejak 2020, perempuan itu menjadi nasabah PNM Mekaar untuk menambah modal produksi. Kisahnya menjadi gambaran bagaimana pembiayaan ultra mikro menyentuh pelaku usaha di daerah.

Paragraf pembuka: Kerajinan tradisional sulam manik-manik kasab di Kuala Baru, Aceh, menghadapi tekanan modernisasi. Proses pembuatannya panjang, butuh keterampilan khusus, dan menuntut ketelitian tinggi. Tidak semua warga bersedia meneruskan tradisi itu. Namun Asra, perempuan 63 tahun, memilih bertahan dan menjadikannya sumber penghidupan keluarga.

Bertahan Lebih dari Tiga Dekade

Asra mulai menekuni usaha sulam kasab pada 1990. Keterampilan menyulam awalnya ia jalankan di sela aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Seiring waktu, keahlian itu berkembang menjadi usaha yang membantu perekonomian keluarga.

Ia melihat banyak warga Kuala Baru lebih memilih membeli sulam manik-manik kasab ketimbang membuatnya sendiri. Dari situ, Asra menawarkan keahliannya dengan menerima pesanan dari rumah ke rumah. Kini hasil sulam manik-manik kasab buatannya telah dipasarkan ke berbagai daerah di seluruh Aceh.

“Awalnya usaha ini berangkat dari budaya sulam benang kasab yang memang sudah menjadi tradisi di daerah kami. Karena proses pembuatannya cukup lama dan membutuhkan ketelitian, lambat laun banyak warga yang lebih memilih membeli sulam manik-manik kasab daripada membuatnya sendiri,” ujar Asra.

Modal Tambahan dari PNM Mekaar

Perjalanan usaha Asra sempat menghadapi kendala permodalan. Pada 2020, ia bergabung menjadi nasabah PNM Mekaar untuk memperoleh tambahan modal. Pembiayaan itu dipakai membeli bahan dalam jumlah lebih banyak.

Dengan modal yang lebih memadai, Asra dapat meningkatkan kapasitas produksi dan menerima lebih banyak pesanan. “Alhamdulillah, tambahan modal tersebut membantu saya untuk tetap menjalankan usaha dan memenuhi kebutuhan produksi,” katanya.

Selain pembiayaan, Asra mendapat pendampingan berupa pelatihan mengenai benang kasab yang diselenggarakan di Kuala Baru. Pelatihan itu menambah pengetahuan dan keterampilannya mengelola usaha kerajinan.

Dampak ke Warga Sekitar

Kapasitas produksi yang naik membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar. Mereka memperoleh tambahan penghasilan dari kegiatan produksi sulam manik-manik kasab. Usaha yang mulanya dibangun untuk memenuhi kebutuhan keluarga kini memberi manfaat ekonomi lebih luas.

Keberadaan para perajin juga membantu menjaga keterampilan menyulam agar tetap hidup di tengah masyarakat Kuala Baru. Setiap produk dibuat dengan tangan, dan tarikan benang harus dilakukan hati-hati agar pola yang dihasilkan rapi.

“Keunikan usaha ini ada pada proses pembuatannya yang cukup rumit. Setiap tarikan benang membutuhkan ketelitian dan kesabaran ekstra. Tidak bisa dikerjakan terburu-buru karena setiap bagian harus dibuat dengan hati-hati supaya hasilnya rapi dan bagus,” jelas Asra.

Peran Holding Ultra Mikro BRI

Kisah Asra menggambarkan bagaimana akses pembiayaan yang disertai pemberdayaan dapat memberi dampak lebih luas bagi pelaku usaha ultra mikro. Upaya itu sejalan dengan semangat Holding Ultra Mikro (UMi) yang mengintegrasikan BRI sebagai induk holding bersama Pegadaian dan PNM.

Holding UMi dibentuk pada 2021 untuk memperluas dan memperdalam akses layanan keuangan bagi masyarakat, khususnya segmen ultra mikro. Ekosistemnya menggabungkan pembiayaan, simpanan, transaksi, hingga pemberdayaan dan pendampingan usaha.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan pemberdayaan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ultra mikro yang berkelanjutan. “Melalui Holding Ultra Mikro, kami ingin memastikan bahwa akses keuangan menjadi pintu masuk menuju pemberdayaan yang lebih luas. Pelaku usaha seperti Ibu Asra menunjukkan bahwa ketika akses pembiayaan dipadukan dengan pendampingan dan semangat untuk terus berkembang, usaha ultra mikro dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui pemilik usahanya sendiri,” ujar Dhanny.

Penutup: Bagi Asra, dukungan pembiayaan itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya mempertahankan sulam kasab selama lebih dari tiga dekade. Setiap karya yang dihasilkan bukan hanya sumber penghidupan bagi keluarga dan warga sekitar, tetapi juga menjaga keterampilan tradisional Aceh agar tetap dikenal generasi berikutnya.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top