KALIMANTAN TIMUR — Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan. Erupsi terbaru terjadi pada Sabtu (12/9/2026) pukul 04.18 WIT. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui aplikasi MAGMA Indonesia melaporkan tinggi kolom abu teramati sekitar 400 meter di atas puncak, atau 1.725 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang bergerak ke arah utara. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 28 milimeter dan durasi 41 detik. Sepanjang sepekan terakhir, Gunung Ibu sudah erupsi 45 kali.
Pengamatan kegempaan pada 12 September 2026 pukul 00.00–23.59 WIT mencatat 105 kali gempa letusan/erupsi. Amplitudo gempa berkisar 15–28 milimeter dengan durasi 38–92 detik.
Selain gempa letusan, petugas merekam 1 kali gempa guguran beramplitudo 2 milimeter selama 32 detik. Tercatat pula 3 kali gempa hembusan dengan amplitudo 4–8 milimeter dan durasi 33–37 detik.
Hingga laporan terbaru, tingkat aktivitas Gunung Ibu berada di Level II (Waspada). PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar gunung dan pengunjung agar tidak beraktivitas di dalam radius 2 kilometer dari kawah.
Ada perluasan sektoral berjarak 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara kawah aktif. Zona ini wajib dikosongkan karena menjadi jalur utama lontaran material vulkanik.
Sepanjang tahun 2026, MAGMA Indonesia merekam 4.582 letusan gunung api di seluruh Indonesia. Gunung Semeru di Jawa Timur menempati posisi teratas dengan 1.784 kali letusan.
Gunung Ibu menyusul di posisi kedua dengan 1.489 kali erupsi. Angka ini menempatkan Gunung Ibu sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia pada periode tersebut.
Warga yang bermukim di desa-desa sekitar lereng Gunung Ibu diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan abu turun. Masker dan pelindung mata sebaiknya selalu tersedia di rumah.
Bagi wisatawan yang berencana mendaki atau mendekati kawasan Gunung Ibu, aktivitas di zona terlarang berisiko tinggi terhadap keselamatan. Informasi terkini soal status dan rekomendasi evakuasi dapat dikonfirmasi melalui PVMBG atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halmahera Barat.
Pemantauan MAGMA Indonesia diperbarui setiap hari, sehingga perubahan status dari Level II ke level yang lebih tinggi bisa terjadi kapan saja mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik.