KALIMANTAN TIMUR — Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk periode Agustus 2026 memperlihatkan komposisi yang jarang terjadi. Gran Max masih memimpin, tetapi jarak dengan peringkat kedua kini hanya sekitar 1.100 unit. Angka itu jauh lebih tipis dibanding bulan-bulan sebelumnya, ketika posisi puncak biasanya dikuasai model Jepang dengan selisih lebar.
Yang lebih menarik, Atto 1 bukan cuma menempel di belakang. Model listrik ini langsung masuk dua besar pada periode yang sama, tanpa perlu menunggu bertahun-tahun untuk membangun basis pembeli seperti yang dialami pemain China generasi sebelumnya.
Daihatsu Gran Max mencatat 6.662 unit wholesales. Kekuatannya bukan pada teknologi atau desain, melainkan fleksibilitas bodi: pikap, blind van, dan minibus dalam satu nama model.
Kombinasi itu membuat Gran Max dipakai lintas sektor, dari pedagang pasar sampai operasional logistik kecil. Permintaannya stabil karena pembeli utamanya tidak terlalu terpengaruh tren gaya hidup otomotif.
Angka 5.560 unit untuk Atto 1 menjadi catatan tersendiri. Mobil ini menawarkan beberapa varian dengan rentang harga yang menjangkau konsumen kelas menengah, bukan hanya segmen premium yang selama ini identik dengan EV.
Penjualan setinggi itu menunjukkan dua hal. Pertama, infrastruktur pengisian daya yang makin tersebar di kota-kota besar mulai mengurangi keraguan calon pembeli. Kedua, faktor harga dan pilihan varian tetap jadi penentu utama, bukan sekadar label ramah lingkungan.
Toyota Innova menempati posisi tiga dengan 3.504 unit, gabungan dari versi diesel dan Zenix hybrid. Kabin lega dan reputasi Toyota masih jadi alasan utama, terutama untuk keluarga besar yang butuh kendaraan serbaguna.
Meski turun satu peringkat, volume Innova tidak ambruk. Yang berubah adalah kecepatan pertumbuhan model listrik di atasnya, bukan melemahnya permintaan MPV.
Berikut urutan model berdasarkan penjualan wholesales Gaikindo pada Agustus 2026:
Masuknya Atto 1 ke posisi dua mengubah peta persaingan yang selama bertahun-tahun dikuasai duopoli Toyota-Daihatsu di jajaran atas. Kalau tren ini berlanjut, produsen Jepang punya alasan untuk mempercepat elektrifikasi lini produk volume mereka, bukan hanya di segmen premium.
Bagi konsumen, sinyalnya sederhana: pilihan mobil listrik makin kompetitif dari sisi harga, dan itu mulai terlihat di angka penjualan riil, bukan cuma di pameran atau acara peluncuran.