KALIMANTAN TIMUR — Kepala Balai TN Way Kambas, MHD Zaidi, membenarkan adanya titik api baru yang terdeteksi di wilayah kerja Resort Rantau Jaya, tepatnya pada grid 25N. Lokasi tersebut berada jauh di tengah kawasan konservasi, menyulitkan akses petugas di lapangan.
"Ada titik api baru di wilayah kerja Resort Rantau Jaya, grid kerja 25N. Lokasi itu berada di tengah kawasan TNWK," kata Zaidi kepada awak media, Rabu (26/8/2026).
Personel gabungan yang terdiri dari petugas balai, TNI, Polri, dan relawan telah bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman dari darat. Selain itu, metode water bombing menggunakan helikopter juga direncanakan untuk menjangkau area yang sulit dilalui.
"Personel sudah menuju lokasi dan dilakukan upaya pemadaman. Juga direncanakan menggunakan water bombing," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, luasan lahan yang terbakar di titik terbaru belum dapat dipastikan. Tim di lapangan masih berfokus pada upaya melokalisir api agar tidak merambat ke area lain yang masih hijau.
Zaidi menegaskan bahwa penyebab munculnya api kembali masih dalam proses penelusuran. Dugaan sementara mengarah pada faktor kelalaian manusia, mengingat musim kemarau membuat vegetasi kering di kawasan tersebut sangat mudah terbakar.
"Untuk luasan belum diketahui, penyebab juga belum diketahui," kata Zaidi.
Kebakaran di kawasan seluas lebih dari 130.000 hektare ini pertama kali terdeteksi pada Jumat (21/8/2026). Sejak saat itu, Tim Alpha TNI diterjunkan untuk memperkuat personel pemadam yang berjibaku melawan api siang dan malam.
TNWK merupakan salah satu kawasan konservasi tertua di Indonesia dan menjadi habitat kritis bagi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) serta harimau sumatera. Kebakaran yang melanda 802 hektare lahan mengancam koridor pergerakan satwa liar dan merusak sumber pakan alami mereka.
Luasnya area yang terbakar juga berpotensi meningkatkan konflik antara satwa liar dan pemukiman warga di sekitar taman nasional. Satwa yang kehilangan habitatnya kerap keluar mencari makan ke area perkebunan milik masyarakat.
Upaya pembuatan sekat bakar dan patroli terpadu terus dilakukan untuk mencegah meluasnya kebakaran. Pihak balai juga mengimbau masyarakat di sekitar kawasan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di musim kemarau yang rawan memicu kebakaran hutan dan lahan.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa penanganan kebakaran di kawasan konservasi membutuhkan koordinasi lintas instansi yang cepat serta dukungan teknologi pemadaman yang memadai, mengingat medan yang sulit dijangkau pasukan darat.