BALIKPAPAN — Pemerintah Kota Balikpapan mencatat sedikitnya 27 hingga 28 titik kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2026, dengan total luasan lahan terbakar mencapai 14 hektare. Sebagian besar lahan yang terbakar merupakan semak belukar dan lahan kosong milik warga yang kondisinya sangat kering.
Asisten I Bidang Tata Pemerintahan Kota Balikpapan, Zulkipli, menyebut skala kebakaran yang terjadi masih relatif kecil dan mampu ditangani dengan cepat oleh petugas gabungan. Meski demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat potensi api merambat cukup tinggi di musim kemarau.
Kecamatan Balikpapan Utara menjadi wilayah dengan kejadian karhutla paling banyak, yakni sembilan titik. Disusul Balikpapan Selatan dan Balikpapan Timur yang masing-masing mencatat delapan titik kebakaran, serta Balikpapan Tengah dengan tiga titik kejadian.
Zulkipli menjelaskan, kondisi lahan yang kering membuat api mudah menjalar ke vegetasi di sekitarnya. Ia menambahkan, sejumlah kejadian diduga dipicu aktivitas manusia seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah yang kemudian merembet ke area semak.
Pemerintah kota menyatakan belum menemukan indikasi pembakaran yang sengaja dilakukan untuk membuka atau membersihkan lahan. Namun, Zulkipli menegaskan konsekuensi hukum tetap menanti jika ditemukan unsur kesengajaan yang menyebabkan dampak luas, termasuk kerusakan kawasan hutan lindung.
“Kalau pembakaran itu disengaja dan dampaknya luas, tentu ada konsekuensi hukumnya. Termasuk jika sampai merusak kawasan hutan lindung,” ujar Zulkipli, Rabu (26/8/2026).
Penanganan karhutla di Balikpapan mengacu pada Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2026. Proses hukum dapat dilakukan bersama aparat kepolisian apabila ditemukan pelanggaran serius di lapangan.
Pemerintah bersama BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, serta Pertamina memperkuat koordinasi pemantauan dan pemadaman. Patroli ditingkatkan untuk mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin, terutama di wilayah rawan seperti Balikpapan Utara.
Pendekatan persuasif masih menjadi langkah awal terhadap masyarakat. Pemerintah mengedepankan edukasi agar warga memahami bahwa tindakan sederhana—seperti membuang puntung rokok atau membakar sampah—dapat berkembang menjadi bencana ketika kondisi lingkungan sangat kering.
Zulkipli menekankan bahwa menjaga Balikpapan dari karhutla bukan hanya tugas pemerintah. Kesadaran warga menjadi benteng pertama untuk mencegah api meluas.