Revitalisasi Mal Lembuswana Samarinda: Budayawan Minta Sejarah dan Memori Kolektif Warga Tidak Hilang

Penulis: Zaki Mubarak  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 08:56:31 WIB
Revitalisasi Mal Lembuswana Samarinda tengah disiapkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

SAMARINDA — Mal Lembuswana bukan sekadar pusat perbelanjaan. Bagi generasi yang tumbuh di Samarinda pada era 1990-an hingga awal 2000-an, tempat ini menyimpan banyak cerita. Mencari buku di Gramedia, berbelanja pakaian, naik eskalator, nongkrong bersama teman, hingga sekadar menikmati ruangan berpendingin udara yang ketika itu masih menjadi hal baru di Kota Tepian.

Karena itu, rencana revitalisasi Lembuswana setelah hampir tiga dekade dikelola swasta dinilai tidak boleh sekadar melahirkan mal dengan wajah baru. Budayawan Samarinda Roedy Haryo Widjono menegaskan, Lembuswana pernah menjadi penanda perubahan wajah kota.

“Mal Lembuswana itu juga bisa menjadi semiotika simbolik, penanda simbolik loncatan kemajuan, loncatan modernitas,” ujar Roedy kepada Media Kaltim, Rabu (19/8/2026).

Dari Pasar Pagi ke Ikon Modernitas

Sebelum Lembuswana hadir, masyarakat Samarinda sebenarnya sudah mengenal Pasar Pagi, Citra Niaga, hingga Ana Supermarket. Namun, mal ini menghadirkan pengalaman baru: eskalator, pusat fashion, toko buku, dan berbagai gerai yang kemudian menjadi bagian dari gaya hidup warga.

Gramedia menjadi salah satu identitas kuatnya. Begitu pula berbagai toko fashion dan teknologi yang membuat Lembuswana menjadi magnet baru, terutama bagi anak muda. Kawasan ini berada di salah satu simpul pergerakan masyarakat, menghubungkan Jalan M Yamin, Pasar Segiri, dan Pasar Pagi.

“Dia menjadi ikon loncatan perkembangan peradaban, tanda kutip ya. Kemajuan, lah, modernitas di kota itu,” katanya.

Aset Rp 702 Miliar Kini Kembali ke Pemprov

Secara historis, Lembuswana mulai berkembang pada periode 1996–1998. Kompleks tersebut dibangun di atas lahan milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) seluas sekitar 68.453 meter persegi atau 6,8 hektare. Selain bangunan mal, terdapat kawasan komersial dengan sekitar 150 unit gerai yang tersebar di sembilan bangunan utama.

Selama hampir 30 tahun, kawasan tersebut dikelola PT Cipta Sumina Indah Satresna (CSIS) melalui skema Build Operate Transfer (BOT). Kerja sama berakhir pada 26 Juli 2026. Pengelolaan kemudian diserahkan kepada PT Kaltim Melati Bhakti Satya (MBS) pada 7 Agustus 2026 sebagai pengelola masa transisi.

Data Pemprov Kaltim mencatat nilai tanah kawasan tersebut sekitar Rp 702 miliar. Angka itu belum memasukkan bangunan dan berbagai fasilitas. Setelah seluruh aset dinilai kembali, nilainya diperkirakan berpotensi menembus Rp 1 triliun, meski angka final masih menunggu proses penilaian.

“Kalau Cuma Ganti Wajah, Lembuswana Akan Tergerus Zaman”

Roedy sepakat revitalisasi diperlukan. Namun, ia mengingatkan jangan sampai pembaruan justru membuat Lembuswana kehilangan ciri khasnya. Persaingan pusat perbelanjaan Samarinda sekarang jauh berbeda dibandingkan 1990-an. Mal baru bermunculan, kawasan komersial berkembang, dan pola belanja masyarakat berubah.

“Kalau revitalisasi itu tidak membuat Mal Lembuswana dapat mempertahankan ikoniknya dan berbeda dengan mal yang lain, dia akan tergerus dalam zamannya,” tegasnya.

“Kalau cuma yang sekarang, persaingan sudah terlalu banyak,” ujarnya.

Ruang Budaya dan Komunitas Jadi Kunci Pembeda

Pemprov melalui MBS sebenarnya mulai menjajaki konsep baru. Selain tenant komersial, kawasan Lembuswana diarahkan menampung aktivitas komunitas, hiburan dan olahraga, termasuk rencana fasilitas seperti lapangan padel. Bagian depan kawasan dapat dikembangkan menjadi business center sehingga aktivitasnya tidak hanya bergantung pada pengunjung mal.

Gagasan lainnya adalah menyediakan ruang khusus kebudayaan dan kesenian. Menurut Roedy, Samarinda membutuhkan tempat yang dapat menjadi rumah bagi pertunjukan seni dan kegiatan komunitas. Lembuswana dinilai memiliki peluang untuk mengambil peran tersebut.

“Kalau mau kota peradaban tapi enggak punya gedung peradaban,” katanya.

Kegiatan budaya dapat dibuat rutin sehingga masyarakat memiliki alasan datang ke Lembuswana meskipun tidak sedang berbelanja. Sejumlah tenant lama sementara ini masih bertahan, di antaranya Matahari Department Store, Foodmart, Gramedia, Sports Station, KFC, BreadLife, Guardian, Samsung, Bank Kaltimtara, BRI dan Panin Bank. Nama-nama baru juga sedang dijajaki, antara lain CGV Cinema, AZKO/Informa, Mr DIY, Solaria, J.CO, Pizza Hut Group, Kopi Kenangan hingga Fore Coffee.

“Dia akan menjadi memori kolektif yang panjang bagi orang Samarinda,” tutur Roedy. Memori itulah yang menurutnya harus diperhitungkan ketika pemerintah menentukan masa depan kawasan Lembuswana.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: radarbontang.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top