BALIKPAPAN — Di tengah hiruk-pikuk pembangunan IKN, muncul inovasi pangan yang menarik perhatian: ayam Mahar. Nama yang terdengar seperti mahar pernikahan ini ternyata merupakan akronim dari Maju Sejahtera, sebuah jenis ayam kampung hibrida yang dikembangkan untuk mendukung kemandirian pangan hewani di wilayah penyangga IKN.
Pengembangan perdana ayam ini justru dilakukan di Balikpapan sebelum akhirnya masuk ke Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Kehadirannya menjadi angin segar di tengah fakta bahwa 60 persen dari 20 ribu ton telur per tahun yang dibutuhkan Kaltim masih didatangkan dari luar pulau.
Fauzhul Idhi, yang akrab disapa Pak Didik, memperkenalkan ayam Mahar saat rombongan Tim Rektorat Universitas Mulia (UM) Balikpapan mengikuti acara Rekor Menanam 1.708 Pohon di IKN, Senin (15/8) lalu. Lokasi pengembangannya berada di kawasan Nurseri KIPP IKN, tepatnya di sebuah kandang bernama "Kandang Bahagia".
Kandang tersebut sengaja dibuat nyaman karena ayam dibiarkan bebas berkeliaran. Pak Didik, alumni Universitas Gadjah Mada (UGM), mendirikan CV Mitra Pesona Sejahtera yang menjadi mitra strategis pengembangan ayam Mahar bersama Fakultas Biologi UGM, Kagama Kaltim, Otorita IKN, serta peternak lokal.
Ayam Mahar merupakan hasil persilangan ayam Arab, Mahkota, dan Layer yang dipandu Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof Budi Setiadi Daryono. Hasilnya adalah ayam kampung yang bisa dibudidayakan sebagai ayam pedaging sekaligus petelur unggul.
Keunggulan utamanya terletak pada perawatan yang lebih bersih serta pemanfaatan pakan organik yang mudah dibuat peternak. "Jadi ayam ini sangat adaptif dikembangkan termasuk di wilayah penyangga IKN," ujar Pak Didik.
Secara fisik, ayam Mahar memiliki kepala cenderung bulat dengan postur tubuh lebih gemuk dibanding ayam kampung biasa. Ayam betina memiliki jambul di kepala serta bulu brewok di sekitar telinga, sementara yang jantan memiliki jengger bercabang memanjang ke belakang. Ciri khas lainnya, semua ayam Mahar memiliki warna kaki lebih terang atau putih bersih.
Dari segi produktivitas, ayam Mahar unggul jauh. Pada usia 4,5 bulan sudah mulai produksi telur, sementara ayam kampung biasa baru bertelur di atas 6 bulan. Produksinya mencapai 24 sampai 26 butir per bulan, hampir dua kali lipat dibanding ayam kampung biasa yang hanya separuhnya.
Urgensi pengembangan ayam Mahar semakin jelas melihat angka kebutuhan pangan di Kaltim. Untuk program makan bergizi saja, kebutuhan telur mencapai 1,1 juta butir dalam sekali pelaksanaan atau 2,2 juta butir setiap pekannya. Sementara kebutuhan daging ayam mencapai 169 ton per minggu.
Di Balikpapan, pengembangan awal digalakkan di kawasan Karang Joang, Balikpapan Utara. Seorang peternak bernama Sultan bersama rekannya berhasil mengembangbiakkan ayam Mahar dari 20 telur pemberian UGM menjadi ratusan ekor. "Pertumbuhan ayam Mahar memang lebih cepat dari ayam kampung biasa," ungkapnya.
Kehadiran ayam Mahar membuka peluang usaha yang menjanjikan bagi peternak lokal. Sultan mengaku sudah mendapat galur khusus ayam kampung pedaging yang menambah nilai ekonomis usaha ternaknya. "Jadi usaha ayam Mahar sangat menguntungkan dan memberikan harapan cerah bagi peternak lokal," kata Sultan.
Dengan populasi yang terus diperbanyak di area penyangga IKN, ayam Mahar diharapkan mampu mengurangi gejolak harga telur dan daging ayam yang selama ini kerap terjadi akibat beban biaya transportasi antar pulau.