Peringatan 17 Agustus KAGAMA Balikpapan: Jalan Sehat hingga Pesan Guyub di Tengah Peran sebagai Kota Penyangga IKN

Penulis: Valdi Pratama  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 13:03:27 WIB
Ratusan peserta mengikuti jalan sehat dalam rangka peringatan 17 Agustus yang digelar KAGAMA Balikpapan, Minggu pagi.

BALIKPAPAN — Suasana kebersamaan mewarnai peringatan kemerdekaan yang digelar keluarga besar KAGAMA Balikpapan. Rangkaian acara dimulai dengan jalan sehat pada pagi hari, kemudian dilanjutkan dengan kebersamaan dan foto bersama di lapangan tenis.

Kegiatan ini bukan sekadar seremonial 17 Agustus. Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo menyebut pertemuan tersebut menjadi ruang untuk menjaga kesolidan dan mempererat silaturahmi antaralumni Universitas Gadjah Mada.

Pesan Guyub di Tengah Peran Strategis Balikpapan

Bagus mengingatkan bahwa hubungan antarmanusia tidak hanya dibangun melalui pekerjaan dan kepentingan, tetapi juga melalui perjumpaan sederhana. Ia mengajak seluruh anggota KAGAMA untuk menghayati makna Hymne Gadjah Mada dan memegang teguh semboyan organisasi.

"Guyub dalam kebersamaan, rukun dalam perbedaan, dan migunani, bermanfaat bagi sesama dan bangsa," ujar Bagus dalam sambutannya.

Pesan ini dinilai relevan dengan posisi Balikpapan yang kian strategis. Kota ini tidak hanya menjadi tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari, tetapi juga berperan sebagai salah satu kota penyangga pembangunan IKN.

Alumni sebagai Jembatan Pengabdian untuk IKN

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono juga menekankan pentingnya semangat kebersamaan dalam membangun masa depan Indonesia. Menurutnya, pembangunan tidak hanya membutuhkan infrastruktur, tetapi juga manusia yang mampu bekerja bersama dan menjaga kerukunan.

Dalam konteks tersebut, keberadaan organisasi alumni seperti KAGAMA dapat menjadi jembatan antara pengalaman, gagasan, dan pengabdian. Organisasi ini dinilai mampu menghadirkan nilai-nilai Gadjah Mada di tengah masyarakat.

Kemerdekaan yang Dimaknai dari Hal Kecil

Peringatan Agustusan di Balikpapan ini menemukan maknanya ketika orang-orang kembali mengingat bahwa kemerdekaan juga berarti kemampuan untuk hidup berdampingan dan saling menghargai. Di lapangan tenis pagi itu, kebersamaan tampak sederhana—dari tawa, sapaan, hingga foto bersama.

Namun, dari momen sederhana itu tersimpan pesan panjang: persaudaraan akan tetap hidup ketika terus dirawat. Cinta kepada bangsa tidak selalu hadir dalam kata-kata besar, kadang ia tumbuh dari hal kecil—menyapa, berjalan bersama, dan memilih untuk tetap bermanfaat bagi sesama.

Semangat itulah yang membuat "Guyub, Rukun, dan Migunani" bukan sekadar semboyan, melainkan cara membawa nilai-nilai Gadjah Mada hadir di tengah masyarakat Balikpapan.***

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: inibalikpapan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top