KALIMANTAN TIMUR — Kebakaran melanda area perbatasan antara kawasan inti TNGR dan lahan milik warga di wilayah Maletan, mengarah ke Bukit Tiga. Laporan pertama diterima pihak TNGR dari masyarakat sekitar pukul 16.48 WITA, Jumat sore, setelah warga melihat kemunculan hotspot di bibir kawasan konservasi.
Tim gabungan yang diterjunkan ke lokasi menemukan tiga titik api yang masih aktif. Proses pemadaman dilakukan menggunakan pompa air, racun api, serta parang untuk memutus jalur rambatan.
"Kami menerima laporan dari masyarakat sekitar pukul 16.48 WITA. Ada titik hotspot di batas kawasan, antara kawasan inti dan kebun masyarakat di wilayah Maletan, ke arah Bukit Tiga," kata Astekita, Sabtu (8/8).
Kendala utama di lapangan adalah semak belukar tebal yang mempercepat penyebaran api. Kondisi ini memaksa petugas bekerja ekstra untuk menjangkau titik api di medan yang sulit, sebelum akhirnya api dapat dijinakkan pada Sabtu dini hari.
Astekita menegaskan, hingga saat ini pihaknya belum dapat memastikan penyebab kebakaran. Dua kemungkinan masih terbuka: aktivitas manusia atau faktor alam.
"Untuk penyebabnya kami belum bisa memastikan, apakah karena aktivitas manusia atau faktor alam," ujarnya.
Meski api telah padam, tim pemadam tidak langsung menarik diri. Sebelum meninggalkan lokasi, petugas memastikan seluruh titik api benar-benar mati. Pagi ini, tim kembali dikerahkan ke area terdampak untuk melakukan mopping up—penyisiran menyeluruh untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
"Sebelum kembali, tim di lapangan sudah memastikan semua titik api sudah tidak ada. Pagi ini, tim akan ke lokasi untuk mopping up untuk memastikan api sudah betul-betul padam," jelas Astekita.
Peristiwa ini menambah catatan panjang kebakaran di kawasan TNGR, salah satu taman nasional paling vital di Nusa Tenggara Barat. Area yang terbakar kali ini berada tepat di perbatasan antara kawasan lindung dan kebun warga—titik rawan yang kerap menjadi awal mula kebakaran akibat aktivitas pembukaan lahan.
Dengan luasan mencapai 30 hektare, dampak ekologis yang ditimbulkan tidak kecil. Kawasan yang terbakar berada di zona peralihan yang berfungsi sebagai penyangga ekosistem hutan hujan tropis di lereng Rinjani.
TNGR sendiri merupakan habitat bagi berbagai flora dan fauna endemik, serta menjadi sumber mata air bagi masyarakat di Pulau Lombok. Kebakaran berulang di area ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengurangi tutupan vegetasi di daerah tangkapan air.
Pihak TNGR belum merilis perkiraan kerugian material maupun ekologis atas kebakaran ini. Investigasi penyebab kebakaran masih berlangsung, dan hasilnya akan menentukan langkah hukum lanjutan jika ditemukan indikasi kesengajaan atau kelalaian manusia.