Nelayan di Kalimantan Timur Diminta Tunda Melaut Jika Ada Peringatan Cuaca Ekstrem dari BMKG

Penulis: Yanuar Fahrezi  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 08:59:01 WIB
Nelayan di Samarinda bersiap menunda aktivitas melaut menyusul peringatan cuaca ekstrem dari BMKG.

SAMARINDA — Aktivitas melaut di perairan Kalimantan Timur memasuki masa waspada. BPBD Kaltim meminta para nelayan dan operator kapal untuk menjadikan informasi cuaca dari BMKG sebagai acuan mutlak sebelum memutuskan berlayar.

Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, menyebut peringatan dini yang dikeluarkan BMKG bukan sekadar formalitas. “Kalau ada peringatan dini dan cuaca dinilai berisiko, lebih baik perjalanan ditunda sampai kondisi kembali aman,” kata Buyung, Selasa (28/7/2026).

Perlengkapan Keselamatan Wajib Diperiksa Sebelum Berlayar

Selain memantau prakiraan cuaca, BPBD juga menyoroti kesiapan teknis kapal. Buyung menekankan bahwa kapal harus dalam kondisi layak operasi dengan persediaan bahan bakar yang mencukupi. Jaket pelampung untuk seluruh penumpang juga wajib tersedia dan berfungsi.

“Alat komunikasi jangan diabaikan. Radio komunikasi dan perangkat pendukung lainnya perlu diperiksa, termasuk daya baterainya, agar bisa digunakan saat darurat di laut,” tambahnya.

Potensi Cuaca Ekstrem di Perairan Kaltim

BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan potensi gelombang tinggi dan angin kencang di sejumlah perairan Indonesia, termasuk wilayah Kalimantan Timur. Kondisi ini dapat membahayakan kapal nelayan berukuran kecil hingga menengah yang umum beroperasi di perairan pesisir.

BPBD mengimbau masyarakat pesisir untuk tidak mengabaikan informasi cuaca terkini. Aktivitas pelayaran yang dipaksakan saat kondisi tidak mendukung, menurut Buyung, hanya akan meningkatkan risiko kecelakaan laut yang bisa berakibat fatal.

Imbauan ini berlaku untuk seluruh pelabuhan dan titik pemberangkatan kapal di Kaltim, mulai dari Samarinda, Balikpapan, hingga Bontang. BPBD akan terus berkoordinasi dengan BMKG untuk menyampaikan pembaruan kondisi cuaca secara berkala kepada masyarakat.

Reporter: Yanuar Fahrezi
Sumber: borneoflash.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top