KALIMANTAN TIMUR — Piala Dunia 2026 akan menjadi panggung yang sangat tidak biasa bagi Iran. Pelatih Amir Ghalenoei dan stafnya harus bekerja ekstra keras untuk meminimalkan gangguan di luar lapangan. Salah satu keputusan paling krusial adalah memindahkan base camp tim dari AS ke Meksiko hanya beberapa pekan sebelum turnamen dimulai.
Dalam dua laga uji coba Maret lalu, Ghalenoei menunjukkan fleksibilitas taktik yang menarik. Saat melawan Nigeria, ia memasang formasi 3-6-1 yang disebutnya sebagai "rencana B defensif" — kemungkinan besar disiapkan khusus untuk menghadapi Belgia di fase grup.
Empat hari kemudian, skema berubah total. Melawan Kosta Rika, Ghalenoei beralih ke formasi 4-4-2. Namun, sistem utama tim tetap 4-2-3-1 yang menjadi andalan sepanjang babak kualifikasi.
Keputusan mengejutkan datang dari lini depan. Sardar Azmoun, striker bintang yang selama ini menjadi andalan, resmi ditinggalkan. Sosoknya kontroversial di Iran setelah foto bersama penguasa Uni Emirat Arab — yang mendukung AS dan Israel selama perang — tersebar luas.
Sebagai gantinya, ban kapten kini disematkan pada Mehdi Taremi. Mantan striker Porto, Inter, dan Olympiakos ini bukanlah pemain yang paling populer di mata fans, tapi kontribusinya tak terbantahkan. "Ia pekerja keras, juga membantu pertahanan," tulis laporan Guardian. Keahlian utamanya: lari ke belakang pertahanan lawan dan duel satu lawan satu dengan kiper.
Alireza Beiranvand akan menjadi kiper utama Iran untuk Piala Dunia ketiga berturut-turut. Di lini belakang, Shojae Khalilzadeh jadi satu-satunya bek tengah yang pasti starter. Sementara itu, Saeid Ezatolahi — jika fit — adalah gelandang bertahan nomor satu yang tak tergantikan.
Satu nama patut diwaspadai: Mehdi Ghayedi. Winger cepat milik Al-Nasr (UAE) ini sempat gagal memenuhi ekspektasi besar yang dibebankan padanya. Cedera dan kontroversi di luar lapangan menghambat konsistensinya. Namun di usia 27 tahun, ia berada di puncak karier.
Kembalinya Ghayedi ke tim nasional ditandai dengan gol spektakuler ke gawang Kosta Rika pada Maret lalu. Ghalenoei kemungkinan akan memanfaatkannya sebagai senjata kejutan di Amerika Utara.
Saman Ghoddos menjadi pemain paling setia di skuad Iran selama hampir satu dekade. Uniknya, ia tak pernah bermain untuk klub Iran. Absennya dari kompetisi domestik justru membuatnya luput dari sorotan media lokal, tapi kontribusinya di lapangan selalu konsisten.
Sang pelatih, yang pernah dihukum enam bulan karena terlibat perkelahian di derbi Tehran saat masih pemain, kini menjalani periode keduanya menangani timnas. Gagal di Piala Asia 2007 masih membekas, dan ia menganggap Piala Dunia 2026 sebagai ajang balas dendam terhadap para kritikusnya.
"Kami punya banyak masalah akhir-akhir ini, tapi para pemain berusaha keras dan berkorban," kata Ghalenoei. "Mereka bisa melakukan sesuatu yang epik di Piala Dunia. Mereka punya potensi teknis untuk membuat ini jadi Piala Dunia yang tak terlupakan."