PASER — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang diterima petani di Kabupaten Paser terus merosot. Kondisi ini sudah berlangsung sejak Mei lalu dan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan berarti.
Kepala Disbunak Paser, Djoko Bawono, mengonfirmasi penurunan harga tersebut. Ia menyebut wacana kebijakan ekspor satu pintu yang tengah digodok pemerintah pusat ikut mempengaruhi fluktuasi harga di pasar domestik.
“Penurunan harga TBS ini terjadi sejak Mei. Salah satu pemicunya adalah wacana kebijakan ekspor satu pintu yang masih dibahas,” ujar Djoko kepada wartawan, Selasa (17/6/2025).
Kebijakan ekspor satu pintu merupakan skema yang menyatukan seluruh izin dan proses ekspor komoditas perkebunan dalam satu kanal. Tujuannya untuk memperketat pengawasan dan menekan praktik ilegal.
Namun, di tingkat hilir, wacana ini langsung berdampak pada harga TBS. Pedagang pengumpul dan pabrik kelapa sawit (PKS) cenderung menahan pembelian atau menurunkan harga jual sembari menunggu kepastian regulasi.
“Petani di Paser sangat bergantung pada harga acuan yang ditetapkan pabrik. Ketika ada ketidakpastian kebijakan, harga di tingkat petani langsung terpukul,” kata Djoko.
Penurunan harga TBS ini langsung dirasakan oleh ribuan petani sawit di Paser. Sebagian dari mereka mengaku harus menunda panen karena harga tak menutup biaya operasional.
Disbunak Paser mencatat luas lahan sawit di daerah tersebut mencapai puluhan ribu hektare, dengan mayoritas dikelola oleh petani swadaya. Mereka paling rentan terhadap gejolak harga karena tak punya kontrak jangka panjang dengan pabrik.
“Petani swadaya biasanya menjual ke pengepul dengan harga yang lebih rendah dibandingkan plasma. Saat harga anjlok, mereka yang paling terdampak,” jelas Djoko.
Disbunak Paser mengaku terus memantau perkembangan harga TBS setiap pekan. Mereka juga berkoordinasi dengan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur untuk mencari solusi jangka pendek.
Djoko berharap pemerintah pusat segera memberikan kepastian terkait kebijakan ekspor satu pintu. “Kami berharap ada kejelasan agar pasar tidak terus tertekan. Petani butuh kepastian harga,” tutupnya.