KALIMANTAN TIMUR — Dua insinyur Indonesia, Dr. Ir. Agus Wiramsya Oscar dan Ir. Arief Koeswanto, mewakili PII dalam Engineering Capacity Building Program yang digelar selama empat hari di Guangxi, China. Program ini menghadirkan peserta dari Brunei, India, Irak, Laos, Malaysia, Pakistan, Filipina, Rwanda, Suriah, Hong Kong, dan tuan rumah China.
Mereka tidak hanya duduk di ruang seminar. Rombongan diajak melihat langsung operasional PLTU Shenhua di Tieshangang, Beihai — pembangkit batu bara bersih berkapasitas 4 GW yang memasok seperujuh kebutuhan listrik Provinsi Guangxi. Angkanya: 20 miliar kWh per tahun.
PLTU 4 GW dengan Kecerdasan Buatan dan Desulfurisasi Air Laut
Pembangkit milik Guoneng Guangtou Beihai Power Generation Co., Ltd. ini mengoperasikan unit supercritical yang lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar dan emisi. Teknologi seawater flue gas desulfurization (FGD) dipakai untuk mengendalikan sulfur, sementara sistem ultra-low emission memastikan polusi tetap di bawah ambang batas ketat.
Yang menarik, PLTU ini telah menerapkan platform “5G + Artificial Intelligence” untuk pemantauan peralatan secara real-time, pemeliharaan prediktif, dan inspeksi digital. “Kunjungan ini menunjukkan bagaimana keunggulan operasional, kepedulian lingkungan, dan AI bisa diintegrasikan ke operasi pembangkit modern,” kata Arief Koeswanto.
Diplomasi Insinyur: Dari Barongsai hingga Saling Akui Sertifikat
Program tidak melulu teknis. Peserta diajak mencoba tarian barongsai dalam sesi interaktif yang mencairkan suasana. “Kegiatan ini membangun pemahaman lintas budaya dan memperkuat hubungan profesional di luar kelas,” ujar Ms. Zhang Yiyan, Program Officer Sekretariat CSE.
Zhang menambahkan, CSE menempatkan Continuing Professional Development (CPD) sebagai inti program. Tujuannya: membekali insinyur dengan pengetahuan, keterampilan, dan perspektif global untuk menjawab tantangan teknologi yang muncul.
Agus Wiramsya Oscar menekankan bahwa hasil pertemuan ini bukan sekadar agenda seremonial. “Kami harap PII dan CSE terus memperluas kolaborasi lewat partisipasi resiprokal dalam konferensi, pertukaran pakar, kelas pendek musim panas, dan inisiatif yang mendukung saling pengakuan kualifikasi teknik antara Indonesia dan China,” ujarnya.
Langkah Selanjutnya: Workshop Bersama dan Pertukaran Insinyur Muda
PII melihat potensi besar untuk memperdalam kerja sama melalui lokakarya teknis bersama, riset kolaboratif, serta pertukaran mahasiswa dan insinyur muda. Program magang bergilir antara Indonesia dan China juga masuk dalam peta jalan yang dibahas.
“Implementasi sistem pemantauan cerdas, pemeliharaan prediktif, dan teknologi emisi ultra-rendah menawarkan referensi berharga bagi transisi energi Indonesia,” kata Arief. Menurutnya, pengalaman ini sekaligus memperkaya kompetensi profesional insinyur tanah air.
Partisipasi PII dalam program ini menegaskan komitmen lembaga untuk memperkuat kapasitas insinyur Indonesia lewat kolaborasi internasional. Bukan hanya soal transfer teknologi, tapi juga diplomasi teknik yang dibangun lewat pertukaran pengetahuan, interaksi budaya, dan saling menghormati profesi.