KALIMANTAN TIMUR — Penimbun iPhone Duo di Tiongkok terpaksa memotong harga jual lebih dari USD 400 (sekitar Rp 6,2 juta) per unit setelah laporan kerusakan layar dan engsel membanjiri pasar sejak peluncuran 23 Oktober 2026. Harga jual pihak ketiga di Shenzhen dan platform Idle Fish kini mendekati harga ritel resmi Apple, membalik total skenario cuan yang diharapkan para scalper. Biaya servis layar tanpa garansi yang mencapai 7.998 yuan membuat calon pembeli menahan diri.
Apple merilis iPhone Duo dengan banderol USD 1.999, dan sesi pemesanan awal dibuka 16 Oktober 2026. Stok resmi ludes dalam hitungan menit karena diborong reseller yang berencana menjualnya kembali dengan premi tinggi di pasar gelap.
Perhitungan itu buyar setelah unit sampai ke tangan konsumen. Keluhan soal engsel tersangkut dan layar dalam yang retak dalam beberapa jam pemakaian mengubah permintaan pasar secara drastis.
Pasar elektronik di Shenzhen mencatat pemotongan harga iPhone Duo varian 1 TB hingga lebih dari USD 400, setara Rp 6,2 juta atau 2.800 yuan. Angka itu jauh di atas potongan normal untuk perangkat baru.
Di platform jual-beli Idle Fish, harga pihak ketiga bergerak turun mendekati harga ritel resmi Apple. Premi jual yang biasanya dinikmati scalper hilang hampir sepenuhnya.
Penurunan harga sempat memancing sebagian pembeli untuk mengambil risiko. Meski begitu, histeria harga mahal yang diharapkan para penimbun sudah tidak muncul lagi di pasar.
Ketakutan konsumen punya dasar angka. Estimasi perbaikan layar dalam iPhone Duo tanpa garansi dilaporkan menyentuh 7.998 yuan, atau sekitar setengah dari harga unit baru.
Antrean penggantian unit resmi Apple juga sudah mengular hingga Januari 2027. Konsumen umum memilih menunggu ketimbang membeli dari scalper tanpa kejelasan garansi penuh.
Apple sendiri membatasi pembelian maksimal 2 unit per konsumen. Aturan itu tidak cukup menahan scalper, yang tetap berhasil mengamankan stok besar saat pre-order.
Penurunan harga di kalangan penimbun disambut sukacita komunitas pencinta gadget di media sosial. Kelompok ini geram dengan aksi pemborongan yang membuat stok resmi habis dalam hitungan menit.
Para tengkulak kini terancam rugi besar. Unit timbunan harus dilepas dengan margin tipis, bahkan di bawah harga beli, untuk menekan kerugian lebih dalam.
Kegagalan cuan ini menjadi pelajaran soal risiko menimbun perangkat generasi pertama. Kerusakan fatal pada komponen lipat bisa menghapus premi pasar sekaligus merusak kalkulasi bisnis reseller.