SAMARINDA — Pelaksana Harian Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kaltim, Tresna Rosano, menyatakan penurunan luas karhutla terjadi setelah wilayah Benua Etam mulai diguyur hujan pada akhir Oktober. Meski angka lahan terbakar menurun, kabut asap masih tertahan di atmosfer dan memengaruhi kualitas udara di beberapa kabupaten dan kota.
Tresna menyebut luas lahan terbakar pada Agustus hingga September 2026 mencapai kisaran 3.000 hingga 4.000 hektare. Memasuki Oktober, luasan terdampak kebakaran tercatat turun menjadi sekitar 1.223 hektare.
Penurunan luas karhutla dikaitkan dengan perubahan cuaca menjelang musim penghujan. Menurut Tresna, kondisi itu sesuai dengan perkiraan awal BPBD Kaltim.
"Penurunan ini sejalan dengan prediksi kami sebelumnya bahwa wilayah Kaltim mulai memasuki musim penghujan pada akhir Oktober," ujar Tresna, Sabtu (24/10/2026).
Curah hujan yang meningkat diharapkan membantu mengurangi dampak kebakaran sekaligus memperbaiki kondisi udara yang sebelumnya tercemar kabut asap. BMKG menyebut partikel asap yang masih tertahan di atmosfer memerlukan kondisi cuaca mendukung agar konsentrasinya berkurang, salah satunya melalui turunnya hujan.
Berkurangnya luas kebakaran belum sepenuhnya menghilangkan ancaman pencemaran udara. Sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Kutai Barat dan Kota Samarinda, masih menghadapi kualitas udara kategori tidak sehat.
BPBD Kaltim meminta warga meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Warga diimbau memakai masker dan mengurangi kegiatan di luar rumah maupun kantor jika tidak ada keperluan mendesak.
"Kami mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker untuk melindungi diri. Jika tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya aktivitas di luar rumah maupun kantor dikurangi karena kualitas udara masih kurang sehat," katanya.
Kabupaten Paser tercatat sebagai daerah dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan tertinggi di Kalimantan Timur. Peristiwa serupa juga terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara, termasuk kawasan Ibu Kota Nusantara, Kutai Barat, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, hingga Kota Samarinda.
Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Berau. Wilayah itu mengalami penurunan kejadian kebakaran cukup signifikan setelah mulai diguyur hujan.
Sebagian besar peristiwa yang ditangani petugas merupakan kebakaran lahan dengan karakteristik lokasi dan tingkat kesulitan berbeda-beda. Luasnya kawasan terdampak serta banyaknya titik kebakaran menjadi tantangan tersendiri dalam pemadaman di lapangan.
Sejumlah lokasi kebakaran berada jauh dari akses jalan dan sulit dijangkau kendaraan maupun peralatan pemadam. Kendala terbesar, menurut Tresna, adalah kondisi angin kencang yang dapat mempercepat penyebaran api ke kawasan sekitarnya.
Situasi itu semakin menyulitkan petugas ketika sumber air berada jauh dari titik kebakaran. Karakteristik lahan gambut juga membutuhkan penanganan khusus karena api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah meski bagian atasnya terlihat padam.
Vegetasi yang tumbuh tinggi dan lebat turut menyulitkan petugas menjangkau sumber api secara langsung. Proses pemadaman pun membutuhkan tenaga, peralatan, dan waktu lebih banyak untuk memastikan tidak ada titik panas yang memicu kebakaran kembali.
BPBD Kaltim bersama instansi terkait tetap mengoptimalkan penanganan karhutla di sejumlah daerah terdampak. Penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, akses menuju lokasi kebakaran, serta ketersediaan sumber daya untuk mendukung operasi pemadaman.
BPBD Kaltim berharap kejadian karhutla terus berkurang sehingga dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan dapat semakin ditekan.