MUI Kaltim Ajak Warga Samarinda Teladani Rasulullah, Tekankan Sikap Moderat di Tengah Keberagaman

Penulis: Wendra Kusuma  •  Senin, 14 September 2026 | 08:32:01 WIB
Ustaz Nirhamna Hanif Fadillah menyampaikan ceramah mengenai sikap moderat di tengah keberagaman masyarakat Samarinda.

SAMARINDA — Ustaz Nirhamna Hanif Fadillah menilai kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk menuntut umat Islam mengambil posisi moderat dan seimbang. Sikap itu, katanya, menjadi kunci agar kerukunan tetap terjaga di tengah perbedaan suku, agama, dan budaya.

Ia menyebut sikap tersebut sebagai ummatan wasatan, yakni umat yang tidak berlebihan dan tidak pula abai dalam menjalani kehidupan beragama maupun bermasyarakat.

Apa yang Dimaksud Ummatan Wasatan Menurut MUI Kaltim

Nirhamna menjelaskan, menjadi umat yang moderat berarti berpegang pada akidah Ahlusunah waljamaah dengan pemahaman yang mendalam. Menurutnya, seorang Muslim perlu menyeimbangkan kehidupan beragama dan kehidupan berbangsa.

“Ummatan wasatan yang dimaksudkan di sini adalah menjadi seorang Muslim yang pertama jelas, yang berakidah atau berpaham Ahlusunah waljamaah. Ahlusunah waljamaah berarti kita harus memiliki pemahaman atau pemikiran yang mendalam sebagai seorang mukmin atau Muslim yang berbangsa,” kata Ustaz Nirhamna.

Dalam masyarakat yang beragam, lanjutnya, sikap saling menghormati menjadi kebutuhan bersama. Bukan hanya antarumat beragama, tetapi juga antarkelompok dan antarbudaya di lingkungan sekitar.

Kekeringan dan Keterbatasan Air Jadi Ujian Kesabaran

Nirhamna juga menyinggung kondisi kekeringan serta keterbatasan air di sejumlah wilayah Kaltim. Situasi itu, menurutnya, menuntut ketenangan dan kesabaran dari umat Islam.

Ia berharap warga tidak mudah panik menghadapi keterbatasan tersebut. Yang lebih penting, kata dia, kepedulian terhadap sesama tetap diutamakan, terutama bagi mereka yang paling terdampak.

Hijrah Rasulullah ke Madinah Jadi Contoh Membangun Kerukunan

Dalam ceramahnya, Nirhamna menegaskan bahwa Rasulullah SAW diutus bukan untuk satu kelompok atau wilayah tertentu saja. Beliau membawa rahmat bagi seluruh alam, sehingga keteladanannya semestinya menjadi rujukan dalam membangun hubungan sosial.

Perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah disebutnya sebagai contoh penting bagaimana Islam hadir dan berinteraksi dengan masyarakat. Di Madinah, Rasulullah SAW tidak hanya berdakwah, tetapi juga menjadi bagian dari tatanan sosial yang mengedepankan kebersamaan.

Beliau membangun kehidupan bersama dengan menempatkan hubungan sosial dan nilai-nilai damai sebagai fondasi, meski masyarakat saat itu hidup dalam perbedaan.

“Rasulullah sebagai contoh figur bahwa dakwah beliau itu adalah dengan lemah lembut. Bahkan beliau itu dengan ketenangan yang luar biasa, kebahagiaan yang luar biasa, senyumnya yang luar biasa,” ujarnya.

Nilai Toleransi Dinilai Relevan untuk Merawat Persatuan

Nirhamna menilai nilai kasih sayang, persaudaraan, toleransi, dan perdamaian masih sangat relevan bagi Indonesia yang beragam. Nilai-nilai itu, katanya, menjadi perekat yang menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai tuntunan, umat Islam diharapkan mampu menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Wujudnya bisa lewat kepedulian terhadap sesama, menjaga kerukunan, serta ikut merawat kedamaian dan persatuan bangsa.

Reporter: Wendra Kusuma
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top