JAKARTA — Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono membuka acara bedah karya literasi tersebut. Forum ini juga dihadiri sejumlah pejabat kementerian serta pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat.
Dua karya yang diluncurkan mengusung fokus berbeda. Tandur Taru Urip merangkum orasi ilmiah soal perjumpaan ilmu pengetahuan, agama, dan tradisi kebudayaan. Sementara Panca Kertha memuat rumusan lima agenda perubahan kelembagaan umat Hindu.
Tiga rektor perguruan tinggi Hindu bertindak sebagai pembedah naskah, yakni I Gede Suwindia, Cokorda Gde Bayu Putra, dan I Wayan Wirata. Diskusi dipandu Teddy C. Putra.
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud AAGN Ari Dwipayana menjelaskan konsep dasar penulisan kedua buku tersebut.
"Mengakar kuat bukan berarti kembali ke masa lalu. Menjulang tinggi juga bukan berarti meninggalkan akar," kata Ari.
Ari menegaskan persatuan keagamaan Nusantara tidak boleh mengarah pada penyeragaman tradisi kearifan umat setempat. Menurutnya, keberagaman ekspresi beribadah justru bagian dari hakikat keimanan.
"Eka Twa, Aneka Twa, Swalaksana Bhatara—satu dalam hakikat, beragam dalam ekspresi dan jalan pengabdian," ujar Ari.
Buku Panca Kertha memuat rumusan lima agenda perubahan menjelang pelaksanaan Mahasabha XIII PHDI mendatang. Ari menyebut seluruh umat membutuhkan akar sejarah yang kuat sekaligus rumah kelembagaan bersama.
Pembaruan tata kelola kelembagaan diharapkan mampu memulihkan marwah serta memberdayakan seluruh masyarakat secara berkelanjutan.
"Mari kita rawat akar, kita kuatkan rumah bersama, dan kita tumbuhkan masa depan Hindu Nusantara. Mengakar kuat, menjulang tinggi. Pulihkan marwah, satukan umat, rawat kebhinnekaan, benahi tata kelola, dan berdayakan umat," ucap Ari.