KALIMANTAN TIMUR — Pernyataan Trump itu bukan yang pertama. Di Detroit Economic Club, Januari 2026, ia sudah bilang hal serupa: "Biarkan China masuk, biarkan Jepang masuk," sepanjang mereka membangun pabrik dan merekrut pekerja lokal. Yang terbaru, dalam program The Ingraham Angle, ia menegaskan, "Jika China ingin masuk dan membuka pabrik untuk membuat mobil mereka di sini, saya tidak keberatan."
Namun ada syarat yang ia tolak: skema perakitan di Meksiko yang produknya dikapalkan ke AS. Jepang, menurut Trump, sudah lebih dulu melakukan hal serupa dan yang terpenting pabrik-pabrik itu mempekerjakan tenaga kerja Amerika.
Membangun pabrik di Amerika tidak otomatis membuka akses pasar. Ada empat aturan yang berdiri dan saling mengunci:
Dua aturan terakhir menyasar kepemilikan perusahaan dan asal teknologi, bukan lokasi perakitan. Artinya, pabrik di Ohio atau Michigan sekalipun tidak menggugurkan larangan tersebut selama entitas induknya masih dikendalikan China.
Industri otomotif AS tidak menunggu. Pada 13 Maret 2026, asosiasi industri otomotif bersurat kepada pemerintah agar pabrikan China tetap dijauhkan dari pasar Amerika. Tiga minggu kemudian, 3 April 2026, Senator Tammy Baldwin, Slotkin, dan Chuck Schumer menyurati Trump secara langsung.
Isi surat itu tegas: mengundang pabrikan China akan memberi keunggulan ekonomi yang mustahil dikejar pabrikan Amerika, sekaligus memicu krisis keamanan nasional yang tidak bisa dibalik.
Slotkin pekan ini mengeklaim beredar rumor bahwa akses pasar bagi mobil China menjadi bagian dari kesepakatan dagang yang sedang disusun. Ia menyebutnya "kesalahan" yang berisiko memukul 1,2 juta lapangan kerja otomotif di Michigan.
Gedung Putih belum mengumumkan perubahan kebijakan apa pun. Pernyataan Trump Jumat lalu muncul 13 hari sebelum pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih, 24 September 2026.
Bagi konsumen Indonesia, dinamika ini relevan tidak langsung. Jika pintu AS benar-benar terbuka, pabrikan China seperti BYD, Chery, atau SAIC akan punya insentif menambah kapasitas produksi global — yang bisa berdampak ke harga ekspor ke pasar Asia Tenggara. Sebaliknya, jika regulasi tetap mengunci, kelebihan kapasitas mobil China kemungkinan besar tetap dialihkan ke pasar yang lebih terbuka, termasuk Indonesia.
Sampai ada perubahan resmi di level kebijakan, pernyataan Trump baru sebatas sinyal politik. Empat tembok tarif dan keamanan masih berdiri, dan Kongres belum menunjukkan tanda melonggarkan salah satunya.